AMBIGUITAS KOLASE BELING DEKONSTRUKSI TANDA YANG MANIS (Review Pameran Budi ADi Nugroho, Galeri Soemardja, ITB, Bandung)

by gumilarganjar

Sabtu, 15 Oktober 2011, digelar sebuah pameran tunggal Budi Adi Nugroho, “Toys with Semionaut Soup” yang merupakan buah kerjasama dari Galeri Soemardja dan d Gallerie yang akan berlangsung di Galeri Soemardja selama 3 minggu, yakni antara 15 Oktober 2011 sampai 4 November 2011. Pameran yang dikurasi oleh Aminudin T. H. Siregar kali ini mengangkat ikon-ikon popular yang sudah amat akrab dengan publik, menampilkan sekitar 10 karya instalasi yang tersebar di dinding dan ruangan galeri. Pameran ini pun mendapat kritik yang ditulis oleh Adi Wicaksono yang tercantum pada katalog pameran tersebut. Sebuah format katalog yang unik dalam seni rupa kontemporer Indonesia ditengah tenggelamnya eksistensi kritikus seni pada substasi medan sosialnya.

(Gambar 1: Suasana Pembukaan pameran “Toys with Semionaut Soup”)

Pameran ini menampilkan 10 instalasi karya Budi Adi Nugroho yang sebagian besar terbuat dari bahan-bahan artifisial seperti resin, polyester putty, kayu, dan fiberglass, medium yang sering dipakai pada patung kontemporer Indonesia sekitar tiga tahun terakhir. Karya instalasinya dipajang di ruangan dan di dinding galeri, menyesuaikan dengan bentuk dan fasilitas yang ada. Kecenderungan peminjaman ikon dari budaya popular seperti tokoh kartun Tin-tin, tempat permen, dan lainnya tampak cukup kental dalam karya Budi. Kesan mengkilap dan licin pun terliat pada penyelesaian akhir karya instalasi dan patungnya.

Pada kurasinya, Aminudin mencoba untuk membongkar kode-kode semiotik yang digunakan oleh Budi, lapis demi lapis beliau selami sampai pada akhirnya muncul istilah Semionaut Soup yang kemudian menjadi benang merah pameran ini. Sup dari beling dan reruntuhan dekonstruksi tanda-tanda strukturalis yang saling tercampur satu sama lain dan saling tumpang tindih secara radikal. Kecenderungna ini menurutnya dilatarbelakangi oleh kondisi seni rupa Indonesia saat Budi menjadi mahasiswa di FSRD ITB, yang kala itu mulai bernafaskan post-modernisme, sarat akan dorongan bermain dan ekstasi pencampur-adukkan tanda. Hilangnya batasan seni tinggi yang sarat akan nilai estetik dan seni rendahan yang kitsch mulai marak terjadi saat reformasi Indonesia pada tahun 1998 tercetus, seakan menjadi tiket para seniman untuk tidak lagi berpacu pada batasan dan bingkai modernisme yang otonom dan kaku. Penggunaan teks dari berbagi macam referensi dan konteks yang lantas dipinjam dan dicampuradukkan dengan teks lainnya adalah tren pada masa tersebut sampai sekarang. Bisa bersifat parody, pastiche, schizophrenic, atau lainnya. Eklektis, semua boleh, semua relatif, anything goes. Masuknya ikon-ikon murahan dari budaya massa yang digemari masyarakat konsumeris ke dalam ruang privat galeri sudah menjadi lumrah. Patung-patung abstrak yang pada masa orde baru adem ayem “nongkrong” di galeri seni kala itu mulai digantikan oleh patung-patung berbahan artifisial yang berkesan licin dan mengkilap, bagai souvenir yang siap diperjualbelikan.

Latar belakang diatas kemudian mendorong Budi untuk merayakan kebanalan masyarakat post-industri. Tampak jelas pada karyanya bahwa Budi ‘terlena’ dakam pencapur adukkan tanda yang diungkapkannya denagan meminjam ikon-ikon murahan yang dipadukan dengan pemikiran dirinya yang sebagian besar merupakan kritisi beliau pada perkembangan seni rupa kontemporer, seperti para karya “The Physical Physical Physical”, menampilakn sebuah kapal selam berebentuk Hiu dalam sebuah glass box (mengingatkan pada karya fenomenal Damien Hirst yang terjual 12 juta US dollar) yang dikendarai oleh dua sosok. Seakan mengilustrasikan Semionaut Soup dengan ringkas, dan publik menyelam dalam sup bangkai semiotika tersebut dengan mengendarai karya. Budi pun mencoba mengkritisi trend patung kontemporer, yakni menggunakan bahan artifisial yang mudah dibentuk dengan finisihing yagn licin dan mengkilap. Seakan seperti souvenir, siap dijual belikan dan dipajang, Krtisi ini lalu ditumpangtindihkan dengan tanda lainnya, yakni pengadaan potret ikonik seniman kontemporer Indonesia yang eksistensinya cukup diakui di Indonesia (Pramuhendra, Radi Arwinda, dan Wiyoga Muhardanto) dengan tempat permen PEZ yang popular, yang diikat dalam karya “Pop Artist – series “. Semakin menekanan citra karya seniman yang disindirnya sebagai seni salon yang diminati pasar karena citra karyanya yang “manis

(Gambar 2: “Pop Artist – series “)

Kritisi lainnya yang Budi lontarkan adalah terhadap Asmudjo Jono Irianto, seorang kurator yang amat megelu-elukan seni rupa kontemporer. Dalam karya yang berjudul “Pop Gadget”, Budi mencoba untuk mengasosiasikan Asmudjo dan Inspectur gadget yang memiliki seperangkat gadget-gadget yang sangat handy dan praktis. Seakan mengilustrasikan kecenderungan karya kontemporer yang begitu praktis dan ekelektis, semua bisa dijadikan sebagai alat untuk melakukan purpose apapun.

 

(Gambar 3: “Self potrait – series “)

Selain kritisi, Budi pun menuangkan pemikirannya terhadapa eksistensi dan fungsi seniman pada dunai seni rupa kontemporer, tertuang pada karya  “Self-Potrait”, menekankan fungsi dirinya sang seniman seabagi pahlawan/superhero yang dikemas dengan cara yang popular, tetap dengan menggunakan ikon PEZ dalam skala sebenarnya. Boleh jadi Budi menganggap dirinya adalah pahlawan kontemporer yang berani mengkritisi perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia.

Kritik yang ditulis oleh Adi Wicaksono pada katalog pameran tersebut menekankan pada kurang baiknya permainan tanda yang Budi gunakan. Kurangnya riset yang dilakukan Budi menjadikan karya-karyanya sekan setengah-setengah, seperti display pameran yang tetap saja berada dalam simulasi ruang privat galeri, dan display karya yang menyiratkan kurangnya riset Budi dalam melihat ruang galeri Soemardja. Menurut Adi, karya instalasinya seakan dibuat praktis dan mudah dipindah-pindah, menyesuaikan dengan fasilsitas ruang yang ada di galeri, kurang total, kurang greget. Disatu sisi kecenderungan karyanya mengkritisi eksistensi seni rupa kontemporer Indonesia, namun karyanya tetap tenggelam dalam konsepsi seni rupa kontemporer yang dikritisinya. Sebuah paradox.

Seara keseluruhan pameran ini cukup menyuarakan suara budi yang menyiratkan kegelsihannya akan perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Beliau mencoba mengkritisinya, namun tetap, kurangnya riset terhadap ruangan dan kurang totalnya permainan semiotika yang Budi lakukan menjadikan kritik terhadap medan sosial seni rupa kontmeporer menjadi setengah-setengah. Meskipun masyarakat kontemporer terbiasa akan bias dan paradoks-paradoks dalam praktik seninya, karya Budi yang mencoba mengkritisi malah tetap terjebak dalam apa yang dikritisinya itu sendiri. beliau mengkritisi, tatapi tetap merayakannya, timbul sebuah impresi membingungkan terhadap kejelasan maksud Budi dalam karyanya. Namun, semua kebingungan in tetap difasilitasi oleh seni rupa post-modern. Ketika mencairnya dinding batas baik buruk, boleh tidak, sakral profane, estetis kitsch, banal kontemplatif, dll membuat semua praktik seni dihalalkan, diperbolehkan, diamini. Penggunaan teks yang ambigu, membungungkan, tidak jelas, suka-suka, main-main tetap saja diapresisasi. Apalagi ditambah anomali medan sosial seni rupa Indonesia yang diindikasikan dengan dominasi pasar yang terlampaiu tinggi, menjadikan iklim seni Indonesia bisa saja kurang sehat. Ketika karya yang diserap pasar dianggap sebagai karya yang cukup baik tapi dalam perkembangannya malah merancukan kualitas karya itu sendiri. dan mau tidak mau eksistensi seniman ditentukan olehnya, iklim seni rupa Indonesia pun semakin dipertanyakan.

Eklektis, semua boleh, semua suka, semua relative, anything goes.

Namun, ditengah semua kebingungan dan kepasrahan akan ketiadaan standar yang jelas ini, seni tetap masih bisa dinikmati. Bukan berarti seni rupa tidak bisa dirayakan, semoga praktik seni rupa Indonesia yang akan datang akan memberikan harapan untuk menuju senirupa kontemporer yang lebih baik.