Sebuah Persinggahan untuk Keberlangsungan

by gumilarganjar

Jum’at, 4 November 2011, digelar sebuah pameran bertajuk “Transit#1 – unload/reload” yang menampilkan rangkaian karya dari 3 seniman yakni Gatot Pujiarto, Made Wiguna Valasara, dan Rudayat. berlangsung di Selasar Sunaryo Art Space selama 3 minggu, yakni antara 4 November 2011 sampai 25 November 2011. Pameran ini merupakan sebuah rangkaian acara dari progtam Transit#1, salah satu program residensi seniman yang difasilitasi oleh Selasar Sunaryo Art Space yang dibuka mulai tahun ini. Pameran ini dikurasi oleh Hendro Wiyanto dan Agung Hujatnikajenong. Pada rangaian acara pembukaannya, terdapat sebuah performance akustik dari anak asuhan Rumah Seni Hary Roesly dan sebuah pidato mirip stand-up comedy yang dipentaskan oleh Wawan, yang sedikit banyak disellipi oleh kritik-ktitik satir terhadap dunia seni rupa Indonesia, seperti fenomena mencuatnya seniman muda yang dikenal dengan istilah ‘penggorengan seniman’ yang dianalaogikan dengan acara masak memasak dari Farah Quinn, dan kritisi akan dominiasi Tionghoa yang menjadi kolektor pada medan sosial seni rupa Indonesia. Artist Talk diadakan keesokan harinya jam 3 sore di tempat yang sama sebagai pelengkap dari rangkaian acara Transit#1 ini.

(Gambar1: Suasana Pembukaan Pameran Transit#1:SSAS)

Pameran ini menampilkan sejumlah karya dari Gatot, Valasara, dan Rudayat yang dikerjakan selama program Transit#1 ini berlangsung. Gatot dengan eksplorasinya menggunakan kain perca sisa, Valasara dengan ketidakpuasannya dengan bidang datar kanvas yang kemudian dieksplornya, dan Rudayat dengan lukisannya yang menampilkan citra yang akrab dengan masuyarakat urban mencakupi graffiti dan citra familiar lainnya yang biasa tampil di dinding perkotaan.. Karya-karya Gatot yang mensubitusi cat dengan kain perca sisa kemudian lebih menekankan karyanya sebagai luksian ketimbang seni serat. Sedangkan Valsara berujar bahwa dirinya lebih menekankan bahwa kanvas itu sendiri sebagai objek, bukan sekedar media, mengahsilkan makna berlapis dari medium kanvas datar yang biasa apresiator lihat, biarpun kanvasnya hanya berbalut putih. Sedangkan Rudayat, lebih berkonsentrasi dengan menggrafiti lukisannya, dengan medium yang didominasi lukisan dan dipadeu dengan media lainnya, selain lukisan dan mixed media, beliau pun mencoba semakin menegaskan jarak antara lukisan dan graffiti dengan media video art sebagai outputnya.

Pada kurasinya, baik Hendro Wiyanto maupun Agung Hujatnikajenong, mencoba untuk mengupas lapis lapis ide yang ditawarkan oleh senimannya. Kedua kurator ini melihat proses berkarya para residen dengan sudut pandangnya masing-masing. Hendry secara filosofis mengantarkan pembaca dalam kurasinya dengan menggunakan pendekatan antropologis (atau Cultural Studies, pendekatan yang lebih kontemporer) dari James Clifford pada awal tulisannya, sedang Agung lebih menggunkan pendekatan yang pragmatis dan dokumentatif dalam menjelaskan proses kekaryaan para residen. Hendry mengungkap bahwa makna karya Gatot yang menggunkan kain perca menimbulkan pertanyaan bahwa apakah nilai guna ditentukan oleh sisa?,

 

(Gambar2: Salah satu karya “lukisan kain” dari Gatot)

beliau pun menjelaskan nilai fleksibiitas dan berujar mengenai medium informal Gatot, yakni kain perca sisa yang dianggap menggantikan cat dalam medium lukisan, sebuah wacana baru yang menarik, sedangkan Agung melihat Gatot dari segi kecenderungan intuisi Gatot yang mengendarai proses berkaryanya, beliau menjelaskan Gatot yang semula membatasi intuisinya dengan bentuk representative kemudian semakin membebaskan kerja intuitifnya dengan melepaskan bentuk representative tersebut menjadi abstrak yang beigut bebas dan luwes Karya Valasra, menurut Hendry adaah sebuah pertanyaan kritis mengenai medium kanvas itu sendiri sebagai objek, bukan hanya sebgai medium. Pemaknan yang lebih jauh menggiring kita pada permasalahan subject-object. Ketika kanvas dianggap sebagai objek, apakah kita benar berkuasa akan dirinyayang rela menuruti kemauan senimannya. ataupun sebaliknya, kanvas yang datar dan putih seakan menggiring seniman sebagai objeknya untuk merealisasikan identitias luksian itu sendiri ketika mediuam ini terikat denagn sejarah panjang seni rupa modern yang rigid dan kaku.

 

(Gambar3: Medium kanvas yang dimaknai oleh Valasara sebagai objek, bukan medium)

Agung, mengulas karya Valasara berdasarkan prosesnya, beliau menuliskan perjalanan Valsara dan apa yang melatarbelakangi Valasara sehingga kemudian mengahasilkan lukisan sebagai obek, bukan hanya medium, dengan permainan lekukan-lekukan relief pada media kanvas yang dibalur dengan warna putih polos, seakan menyucikan lukisan itu sendiri dari derasnya doktrin estetika. Terakhir, karya Rudayat dalam kurasi Hendry, seakan mencoba untuk mengungkap realitas kehidupan dari berjalannya masyarakat urban cosmopolitan yang diamati Rudayat, Rudayat menurutnya mempertanyakan kesementaraan realitas yang terungkap dalam tumpangtindihnya poster-poster yang ada di dinding-dinding kota yang merekamnya, ditungkan dalam medium lukisan yang ditindih dengan stencil, atau media lainnya yang  wajar dijumpai di dinding kota.

 

(Gambar4: Salah satu kesementaraan realitas menurut Rudayat dalam karyanya)

Agung kembai melihat proses kekaryaan Rudayat dengan Pragmatis, yakni bekenaan dengan perkembangan Rudayat yang mulai mempertanyakan diskurus seni lukis yang digunakannya, sedangkan sebelumnya beliau hanya digelisahkan oleh permasalahan representasional karyanya. Agung pun mengaskan bahwa Rudayat mulai encoba melaburkan dan mempertanyakan tradisi seni tinggi dan seni rendah, dalam konteks ini, lukisan dan street art. Salah satu penegasan Rudayat tersemat dalam karya video artnya yang semakin mengambangkan street art berupa stencil dan graffiti dengan latar belakang lukisan yang ditampilkan dalam video art.

Pada prosesnya, pameran yang dinaungi oleh program residensi Transit#1 dari SSAS ini menjalani sebuah proses interaksi anatara seniman, kurator, publik (difasilitasi oleh open studio pada hari tertentu), dan penggagas program secara intensif dan terstruktur, sebagai sebuah repson akan sistem kerja pameran seni rupa kontemporer Indonesia yang biasanya hanya tertuju pada hasil akhir karya, bukan pada proses kemenjadiannya. Program transit ini diawali dengan penyeleksian calon residen yang didiskusikan oleh para penanggung jawab program, kemudian calon residen didatangkan ke Selasar dan lantas mempresentasikan portofolionya. Interaksi pertama antara residen dan mentor (diksi mentor seringkali disangkal para residen dan memilih ‘teman ngobrol’ sebagai penggantinya) pun berdampak hebat pada psikologis residen yang merasa karyanya masih mentah, seperti ucap Valasara pada opening pameran yang mengaku kesal ketika presentasi portofolionya diuji dengan amat kritis oleh para mentor. Namun seiring berjalannya waktu, para residen pun semakin terpacu untuk membuat karya seni yang matang justru dengan diskusi dan interaksi intensif dengan para mentor yang sangat kritis. Mentor program ini pun adalah professional yang esksitensinya diperhitungkan dalam medan sosial seni rupa Indonesia, yakni, Hendro Wiyanto, Agung Hujatnikajenong, dan Sunaryo. Residen pun sempat berdiskusi dengan para pelaku seni rupa Indonesia lainnya, seperti Asmudjo Jono Irianto, Aminuddin T. H. Siregar, Jim Supangkat, Eddy Hartanto, dan beberapa tokoh lainnya.

 

(Gambar5: Sedikit diskusi ditengah acara pembukaan antara Hendry dan para residen)

Hal menarik yang bisa ditarik dari gejala ini adalah adanya indikasi bahwa kesadaran konteks maupun media dari para residen yang dalam CVnya menegaskan bahwa mereka lahir dari perguruan tinggi non-ITB masihlah minim, terbukti dengan kegagapan mereka ketika dihadapakan dengan para mentor yang berasal dari kalangan akademisi ITB, sebagai institusi akademi seni yang paling mumpuni. Sebuah pertanyaan dapat ditarik, yakni perlukah ekivalensi kurikulum program pengajaran akademi seni rupa di tingkat sarjana pada perguruan tinggi seni di negri ini?

Program ini pun membantu dan memafasilitasi seniman-seniman muda berbakat untuk menunjukkan eksistensinya dalam dunia seni rupa. Terlebih bahwa profesi kesenimanan tidak ditunjang dengan sarana dan prasarana yang jelas, sehingga pada akhirnya menimbulkan kegamangan bagi para lulusan baru dari perguruan tinggi seni untuk berkiprah di dunia seni rupa. Pembahasan lebih lanjut menegaskan bahwa terjadi pembengkakan lulusan seniman yang berasal dari perguruan tinggi seni, tidak ditunjang dengan lulusan pelaku medan sosial seni lainnya terutama kurator, kritikus, penulis, art management, art dealer, dll. Struktur kurikulum di ITB pun dipadatkan sehingga lulusannya yang difokuskan menjadi seniman atau peneliti seni bisa saja menjadi kurator, art manager, dll. Hal ini meimbulkan tumpang tindih antara kerja professional dan amatir dalam medan sosial seni rupa, seperti ujar Sanento Yuliman pada buku Dua Seni Rupa, lantas validitas dan keabsahan iklim keberlangsungan seni rupa Indonesia pun kembali dipertanyakan.

Pameran Transit#1 ini dinilai cukup menarik menimbang bahwa pameran ini cukup merespon medan seni rupa, tidak hanya berkecimpung dalam program pameran seniman-seniman besar yang bisa jadi bermotif ekonomis dan realistis. Namun bertujuan memfasilitasi jalur publisistas seniman muda yang seringkali terjebak dalam kegamangan profesi kesenimanannya itu sendiri.  Pameran transit ini pun seakan membuka sebuah wacana dan perenungan baru berkenaan dengan iklim dan medan sosial seni rupa seara menyeluruh. Seni postmodern yang telanjur terpranatakan mau tidak mau menyiratkan standar baru yang mengahurskan sebuah negara memiliki institusi seni yang baik yang terbayarkan dengan suasana kondusif iklim berkeseniannya. Sementara di Indonesia, berkeseninan mungkin saja belum cukup kondusif untuk berkembang, karena isntitusi seni itu sendiri dianggap memiliki beberapa anomaly. Sebut saja ketiadaan museum yang menjadikan dominasi pasar yang merajalela, dan ketidakjelasan sarana dan prasarana seni seperti art management, art dealer, dan mungkin kurator yang cukup baik dilatarbelakangi pengenyaman standar-standar akademi yang dilaluinya seakan semakin merancukan keberlangsungan dunia seni rupa Indonsia. Semoga saja pameran ini memicu lahirnya program residensi-residensi lainnya dan kemudian berlanjut ke perbakan substansi institusi seni lainnya sehingga menunjang keberlangsungan seni rupa Indonesia kearah yang lebih baik.