Seni Menjejak Sejarah

by gumilarganjar

Segerombolan massa Jerman TImur nampak berlarian menuju Brandenburg Gate tepat setelah hujan berhenti di kawasan tersebut yang ditandakan dengan hadirnya payung di tangan seseorang yang berada di kiri agak ke tengah atas dari karya dengan antusias, massa terdiri dari beragam usia dan gender, pria wanita, tua muda, diikat dengan optimisme berlari menuju gerbang pemisah Jerman Barat dan TImur. Sebuah potret realisme sosial masyarakat Jerman ketika anggota politbiro SED Guntër Schabowski membenarkan dengan ragu-ragu dan tergagap bahwa perlintasan perbatasan diperbolehkan. lantas tembok Berlin sebagai penanda demarkasi dua ideologi politis Jerman Barat yang demokratis dan TImur dengan fasismenya yang sebelumnya dijaga dengan sangat ketat kemudian dibuka untuk umum tanpa prosedur yang jelas.. Karya ditampilkan dalam sajian fotografi dengan tone black and white (hitam putih), tercatat bahwa potret ini diambil tanggal 22 Desember 1989 oleh Harald Hauslad.

Dalam karya fotografi tersebut, Brandenburg Gate yang berada hampir tepat di tengah horizon terlihat diburu oleh masyarakat Jerman Timur yang terperangkap dalam politik fasis kemudian hendak berpindah ke Jerman Barat yang demokratis. Suasana riuh bersama euphorianya tampak dari gesture masyarakat yang berlalu-lalang pernuh optimisme berlomba-lomba berlarian menuju gerbang yang menjanjikan pembebasan dan penyatuan kembali Jerman. Dalam latar di belakang karya fotografi ini terdapat landscape yang terdiri dari Gerbang Brandenburg yang bergaya klasik Dorian dari bahan marmer dan beton, dua tiang lampu menjulang tinggi melebihi tinggi gerbang, dan sederet peohonan yang mengarah keluar dari gerbang sebagai pusatnya. Aspal jalan yang basah dan becek serta langit yang tertutup awan membangun suasana sehabis hujan dalam karya, karena setting waktu diambil sehabis hujan, maka cahaya yang tertangkap di kamera terlihat agak gelap dan tidak menunjukan adanya kontras yang tinggi, aspal basah memantulkan refleksi massa yang berlarian. Di belakang karya terlihat hadirnya sebuah lengan dari alat berat yang nantinya digunakan untuk penghancuran tembok Berlin, sebagai pertanda menyatunya kembali dua bagian negara yang sempat terpisah ini.

Potret realism sosial diatas merupakan penanda sejarah yang memiliki signifikasi yang cukup kuat terhadap dunia. Terbukti dengan cukup signifikannya pengaruh dari bersatunya kembali dua bagian Jerman ini dalam bidang politik, ekonomi, dan ideologi setelah tingginya perhatian yang diberikan dunia pada fenomena demarkasi ideologis dari negara Jerman pada masa tersebut. Karya fotografi adalah medium yang paling tepat untuk merepresentasikan studi-stuid visual mengenai situasi penyatuan Jerman ini, karena fotografi dengan sendirinya merekam dengan akurat situasi dan moment  dan mempatrinya dalam film yang natinya dicetak.

Seni sebagai penjejak sejarah bolehjadi ‘dilegalkan’ oleh estetika post-modern, menimbang seni yang tidak lagi otonom, namun juga berkontribusi kepada masyarakat, dan mulai menyinggung politik dan pemerintahan. Namun, akan timbul pertanyaan apakah ‘seniman’ penjejak sejarah yang seorang fotografer memiliki intensi untuk menjadikan karyanya sebagai sebuah karya seni?  Meskipun penentuan karya seni tidak sepenuhnya mengacu pada intensi author-nya, pertanggung jawaban karya sedikit banyak memerlukan campur tangan sang author, atau kepada kurator yang telah memutuskan karya ini layak untuk dipamerkan dengan label seni di sebuah galeri. Mengacu pada rumusan Fredric Jameson, karya ini diprediksi menggunakan idiom pastiche, yakni peminjaman sejarah tanpa muatan kritik terhadap teks yang dipinjamnya (karena teks penyatuan Berlin cukup banyak mengandung muatan kritik). Namun menariknya, idiom pastiche justru melawan sejarah karena memutarbalikkan waktu, dan tendensi dari pameran ini adalah seni penjejak sejarah, sebuah paradoks.

Karya fotografi ini dipamerkan dalam sebuah pameran yang bertajuk ‘Adegan dan Jejak Sebuah Peristiwa’ di Galeri Soemardja, Bandung, pada tanggal 1-14 Desember 2011, buah kerjasama dari Galeri Soemardja dengan Goethe Institute, kerjasama yang difasilitasi oleh kerjasama bilateral antara Institut Teknologi Bandung, sebagai ruang akademis yang melingkupi Galeri Soemardja, dengan Goethe Institute, Germany.

Tercatat bahwa sebelumnya Galeri Soemardja pernah menggelar pameran yang sedikit dipertanyakan ‘muatan seni’ dalam karyanya, yakni buah kerja sama galeri ini denga Greenpeace Organization yang memaparkan realism sosial masyarakat Chernobyl setelah tragedy nuklir yang terjadi di tempat tersebut beberapa dekade silam. Beberapa pihak mungkin bertanya-tanya, mengenai pertanggung jawaban karya yang ‘seperti ini’, namun merujuk pada fluidnya seni rupa kontemporer yang mengacu pada pemikiran-pemikiran post-modern, dapat disimpulkan bahwa kecenderungan seni yang mengimplementasikan muatan sosial dalam karyanya adalah hal yang diperbolehkan, justru jika dilihat dari sisi pragmatis, seni dengan kecenderungan tersebut akan lebih mudah diterima masyarakat awam yang ‘tidak melek seni’. Kegamangan yang terjadi di beberapa pelaku seni yang memiliki prespektif tersebut boleh jadi karena ketidakfamiliaran seni yang menampilkan realitas sosial melalui medium fotografi dan absennya atau kurang signifikannya peran museum sebagai sumber sejarah di Indonesia.