Tentang manusia (1) – Instinctual Drive

by gumilarganjar

Entah, beakangan ini saya mulai merasa gelisah dengan eksistensi saya sebagai manusia, seringkali bersyukur, dan kadang-kadang mengumpat.karena sifat manusia yang terlanjur saya dapat sebagai warisan umat manusia. Memahami manusia itu amat membingungkan, sangat membingungkan, dari skala terkecil dari individu, interaksi sosial, hingga peradaban. Pembahasan mengenai manusia tentu saja akan amat sangat meluas kesana kemari, namun ada baiknya mungkin saya batasi oleh bingkai-bingkai tertentu.

Baik, kali  ini saya akan membatasi bahasan tersebut dengan Instinctual Drive, atau dorongan naluri, atau kehendak buta, atau terakhir warisan sifat-sifat binatang yang terdapat dalam diri manusia. Mungkin kalian pernah mendengar Schopenhauer dengan kehendak butanya, beliau dengan berani menyimpulkan bahwa apapun yang dilakukan manusia, selalu didahului oleh dorongan kebinatangan mereka. Beberapa kajian menunjukkan bahwasannya binatang, hanya memnuhi tiga kebutuhan dasar mereka yang biasanya ditujukan untuk mampu bertahan hidup, yakni makan, minum, dan dorongan untuk mempertahnkan spesies yang didahului hubungan seksual. Tulisan ini mungkin seakan menyatakan keberpihakan saya akan pemikiran Schopenhauer, terkesan agak sedikit merendahkan manusia barangkali ya, namun belakangan saya merasa dan melihat bahwa pemikiran tersebut amat logis dan tidak terlalu mengada-ada.

Oke, bagi saya, setinggi dan sehalus apapun perbuatan dan perlakuan manusia, tetap saja akan didahului oleh apa yang sebelumnya saya sebut sebagai dorongan naluri. Tidak, ini bukan merendahkan, bukan. Hanya saja saya menyadari hal ini kemudian membuat saya mampu lebih jauh memahami siapa diri saya dan siapa manusia. Apapun yang kita lakukan, bahkan yang amat halus.

Pernyataan setuju akan kehendak buta manusia ini mungkin terbersit dari beberapa tingkah laku manusia yang saya rasa memnag cenderung mengiyakan hal tersebut. Sebut saja, di jalan, ketika ada seorang perempuan, maaf, wanita, sedikit berdandan dan dengan santainya mengendarai motor tentu saja dapat menarik peratian mata-mata pria, bahkan saya pun pada awalnya sering tertipu hal tersebut, secara tidak sadar, secara naluriah. Contoh lain, entah wanita cantik bagi saya boleh jadi mendapat kesempatan-kesempatan yang lebih baik ketimbang wanita dengan (maaf) paras seadanya. Teman saya sendiri mengiyakan hal tersebut, dia menyadari dirinya cantik, dan sering mendapat kesempatan-kesempatan lebih ketimbang teman-temannya. Hal ini bagi saya didasari oleh sifat dasar pria yang secara naluriah akan memilih wanita ideal untuk mempertahankan keturunannya. Agak jauh memang analogi tersebut. Tapi bisa saja kan? Anggap saja pria bernaluti untuk melanjutkan keturunan, dan alangkah baiknya jika ‘media’-nya termasuk ideal, dan anggaplah guna meraih kesempatan tersebut, pria selaku penyedia kesempatan (biasanya), akan memberikan kesempatan-kesempatan tertentu pada beberapa wanita ideal. Tentu masih banyak contoh yang sekiranya malas saya sebutkan.

Menarik ya, sangat, bagaimana dorongan naluri mampu menjadi biang keladi dari tindak tanduk manusia. Tak kurang menarik dari manusia itu sendiri.