Jurnal Kampung Festival #1: Avant-Propos

by gumilarganjar

Indonesia, sebagai negara tentunya menyimpan berbagai macam masalah yang belakangan kian merebak ke permukaan. Sebut saja moralitas, masalah lingkungan, masalah pendidikan, dan di tingkat yang lebih pragmatis, kesenjangan sosial dan ekonomi. Perkembangan ekonomi Indonesia yang katanya kian tahun makin membaik rasanya belum bisa menjawab dan memberikan solusi pada kesnjangan ekonomi yang terjadi hampir secara menyeluruh di negara ini, dari wilayah urban kapital, hingga wilayah-wilayah peripheral. Agaknya tidak cukup berlebihan jika saya menyebut kota bandung sebagai indikator yang cukup represntatif akan masalah-masalah ini.

__________________________________________________________________

Pesatnya perkembangan industri sandang di Bandung sekiranya dapat diindikasikan oleh menjamurnya Factory Outlet, butik, dan distro. Hal ini tentunya mendukung pertumbuhan ekonomi kota ini. Namun, upaya tersebut tetap saja menyisakan masalah. Telebih efek placebo yang disebabkan oleh merebaknya Industri sandang kemudian menutupi karakter-karakter lain dari kota ini.

Selain contoh di atas, ketimpangan-ketimpangan sosial dan budaya kemudian menjadi beberapa masalah lain yang terlihat jelas di kota ini. Sebut saja, wilayah Babakan Siliwangi dan Tamansari sebagai pemukiman padat penduduk yang masih berkesan kumuh (ironisnya) diapit oleh gedung-gedung tinggi dan megah khas kota metropolitan seperti mall, apartemen, hoten, dll. Hal tersebut sekiranya menjadi bukti nyata akan hadirnya kesenjangan sosial yang masih tinggi di kota ini.

Pemukiman padat penduduk (atau ‘kampung’, sebagai padanan kata yang paiing tepat merepresentarsikan wilayah seperti ini) seakan-akan tidak mudah untuk disadari keberadaannya oleh masyarakat kota. Selain karena aksesnya memang sulit, pesona wisata dan hiburan yang ditawarkan oleh gedung-gedung megah yang mengapit pemukiman tersebut seolah menenggelamkan eksistensi, pesona, dan daya tariknya

Kampung di tengah kota seolah-oleh telah kehilangan nilai-nilai yang sempat dimilikinya, local wisdom misalnya, belakangan telah tergantikan dengan kesan kumuh, kotor, tidak terawat, sempit, dsb yang terlanjur melekat pada wilayah Kampung itu sendiri. Hal ini boleh jadi kemudian menjadikan warga sekitar telah kehilangan rasa kepemilikan dan kebanggan terhadap kampungnya, digantikan rasa minder, ‘rendah diri’, dan tak berdaya, sehingga gedung-gedung megah ala kota metropolitan dapat dengan sombongnya berdiri diatas identitas warga kampung.

Di sisi lain, warga kampung seyogyanya adalah segmen masyarakat metropolitasn yang memiliki signifikasi yang cukup kuat tarutama sebagai roda penggerak ekonomi kota. Sebut saja tukang bangunan, penjaga toko, petugas kebersihan, dan penjaga keamanan pada umumnya hidup di kampung. Warga kampung terus-menerus dijadikan objek dan bahkan beberapa kali menjadi korban dari pembangunan belaka.

Masalah tidak hanya telihat dari penuturan sebelumnya, yakni kesejangan sosiall. Minimnya kesadaran lingkungan masyarkat Bandung pun kerap menyisakan masalah-masalah lingkungan yang tentunya dapat menggerus kelestarian alam kota Bandung.