Jurnal Kampung Festival #2: Latar Belakang Acara

by gumilarganjar

Dalam jurnal  sebelumnya saya utarakan beberapa latar belakang mengenai lahirnya acara ini. Hal yang mungkin paling saya garis bawahi disana adalah masalah kesenjangan sosial dan ekonomi yang seringkali menimpa masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan padat penduduk atau yang lebih akrab dipanggil kampung. Kesenjangan sosial semakin terlihat jelas ketika kawasan-kawasan padat penduduk tersebut berada di wilayah perkotaan, contoh yang cukup representatif dan juga berada dalam wilayah kajian riset kami adalah wilayah tamansari, khususnya kebon kembang dan taman hewan. Kontras yang amat kentara terlihat dari juxtaposisi berdirinya gedung-gedung mewah nan menjulang tinggi atau mega-infrastruktur kota yang ‘lucunya’ mengapit (atau jika saya seorang fatalis, menggerus) keberadaan kampung-kampung tersebut. Wlayah taman hewan mislanya, disekitarnya diapit oleh meghanya bangunan bangunan tinggi yang juga berfungsi sebagai hunian, apartemen, atau wilayah kebon kembang yang beberapa kawasannya terpaksa digusur demi berdirinya jembatan pasopati sebagai salah satu pra-sarana transportasi kota bandung (belakangan fungsinya kemudian bergeser menjadi landmark kota Bandung). Warga kampung seolah tak berdaya dalam menyikapi situasi ini, namun saya sendiri bingung apakah pembangunan kota menjadi kambing hitam dari fenomena ini. Sekiranya pembangunan kota tidak serta merta menghasilkan kerugian, tapi justru membantu perkembangan ekonomi kota ini, Bandung. Namun, wacana yang mungkin dapat dibahas lebih lanjut adalah, apakah warga-warga kampung dengan (maaf) kekuatan baik politik dan ekonomi seadanya kemudian terus-menerus menjadi korban akan pembangunan kota?

 

Dalam serangkaian proses mediasi dan juga riset saya menemukan bahwa warga kampung sendiri agak kecewa dengan sikap beberapa otoritas yang berkesan mengacuhkan mereka, mereka mengeluh, dan kadang mengumpat. Cenderung apatis dan acuh, Wajar saja, jika kita melihat dari sudut pandang mereka yang sekiranya merasa agak dirugikan akan adanya pembangunan-pembangunan. Kehilangan tempat tinggal, kurang layaknya ganti rugi, rusaknya lingkungan hidup dan munculnya polusi (saya kira ini tidak serta merta dapat kita serahkan tanggung jawabnya pada pembangunan), dan  beberapa kerugian lainnya terlontar dari beberapa ucapan mereka. Agak miris dan pada awalnya saya sendiri cenderung mengasihani mereka dan agak sinis terhadap pembangunan kota yang cenderung merugikan mereka. Tapi coba lihat dari sudut pandang lain, sebagai seorang interpreter yang kemudian mencoba menilai fenomena ini dengan netral saya melihat bahwa di sisi lain pembangunan kota Bandung cukup memberikan dampak positif yang signifikan bagi kota ini. Meningkatnya penghasilan kota, meningkatnya taraf hidup warga, dan beberapa manfaat lainnya.

 

Sedikit mengulas mengenai kapitalisme, apakah memang pari kapital tersebut layak kita salahkan? Layak kita umpat? Layak kita maki? Belum tentu. Mayoritas masyarakat Bandung (atau bahkan, dunia) tidak bisa lepas dari apa yang mereka lakukan. Manusia kontemporer sudah terlanjur hidup dan mengaitkan diri pada sistem kapitalis ini, dan saya pribadi tidak bisa membayangkan jika kapitalisme benar-benar dihilangkan dari muka kota Bandung, mungkin chaos, atau bisa saja terjadi jika pihak otoritas memiliki kuasa sebesar itu untuk mampu melakukan stabilisasi ekonomi. Saya rasa ulasan ini akan menarik ketika saya kaitkan dengan beberapa kajian filsafat kontemporer yang mengkaji masyarakat dan kebudayaan kontemporer, singkatnya, kebudayaan kontemporer yang dikendalikan oleh kapital mampu melakukan reifikasi (reification, coba anda cari sendiri maknanya) dan pendangkalan masyarakat secara menyeluruh (ketika masyarakat lebih tertarik pada pesona-pesona nilai makna yang disematkan kapital dengan strategi publikasi pada produk-produknya dan kemudian menjadikan masyarkatnya banal dan hanya memaknai wilayah-wilayah permukaan dalam kehidupan (atau materi) sehingga masyarakat kontemporer kemduian terikat dan agak sulit dilepaskan dari signifikasi kapitalisme di dunia. Saya kira dapat saya batasi disini, ini jurnal acara bukan kuliah filsafat.

 

Lantas apa kita sedang menggenggam buah simalakama? Dimakan salah dibuang salah? Boleh jadi, namum agaknya masih ada beberapa solusi kreatif yang mampu menengahi masalah ini, setidaknya merespon dan mengkritik, belum dalam peran mengkoreksi dan mensubtitusi. Kembali kepada masalah kesenjangan sosial dengan kampung sebagai Dan langkah awal dalam  menyikapi hal ini  adalah dengan mengembalikan rasa kepemilikan manusia terhadap apa yang dimilikinya, atau secara pragmatis, mengembalikan rasa kepemilikan warga akan diri, komunitas, dan kampungnya.

 

Salah satu upaya untuk mewujudkan harapan tersebut adalah dengan kembali melihat warga kampung sebagai substansi yang signifikan dan patut diperhitungkan. Dengan wujud nyata sebuah artefak acara, Kampung Festival, diharapkan warga dapat berkontribusi untuk mengaktivasi kembali kampungnya bukan semata sebagai pemukiman padat penduduk biasa, namun sebuah kampung yang memiliki sebuah potensi. Acara ini kemudian memfasilitasi warga untuk bisa mengaktualisasikan diri dan pada akhirnya dengan sepenuh hati merasa memiliki kampungnya.

Kampung Festival akan mewujudkan dua acara dengan tujuan yang sama, namun dengan eksekusi yang disesuaikan dengan problematika yang hadir karena letak geografis kampung sendiri. Kebon Kembang misalnya, jembatan pasopati yang kemudian harus sedikit mengubah muka kampung ini kemudian berujung pada pengecatan atap sebagai penanda signfikasi warga sebagai solusi kreatifnya. Sedangkan pada kawasan Taman Hewan, podium swadaya warga dan fasilitas lapangan tengah kemudian melahirkan ide akan lahirnya sebuah festival kreatif yang akan diisi oleh pementasan musik tradisional dan kontemporer, community gathering serta pembangunan podium bambu.