Jurnal Kampung Festival #3: Ramah Someah Warga Kampung

by gumilarganjar

Warga Bandung, memang selalu dikenal memiliki perilaku yang ramah dan tatakrama yang amat sopan. Mungkin ini berasal dari konsruksi budaya Sunda yang sudah cukup kuat melekat dalam diri masyarakat Bandung. Belakangan sifat ini kemudian telah tergeser oleh profesionalisme, sifat serba efisien, dingin, seperlunya, dan cenderung terburu-buru kemudian mulai menggantikan wajah ramah warga Bandung, meskipun memang hal ini dilatarbelakangi oleh profesi. Namun, sifat ramah tersebut tidak sepenuhnya hilang dari wiayah ini, namun memang, sifat tersebut akan terasa amat kental ketika kita mengunjungi wilayah-wilayah peripheral, atau dengan kata lain, di kampung-kampung.

Hal tersebut saya rasakan dan saksikan ketika saya mengadakan beberapa kali mediasi dan sosialisasi dalam kepentingan acara Helarfest: Kampung Festival Tamansari. Tidak jarang kami merasa agak segan karena terlalu banyak ditawari ini itu, lebih jauh lagi, kesediaan warga untuk menyediakan berbagai macam hal yang tentunya membutuhkan banyak tenaga (karena warga sendiri mengakui tidak bisa membantu dukungan materi dalam skala signifikan). Mereka, warga kampung, amat antusias dengan diadakannya acara tersebut, sangat menghargai, amat mendukung, dan sangat mengapresiasi proses acara. Semakin lama saya semakin yakin bahwa program kampung kreatif akan benar-benar bisa terwujud, dan memang, kami selaku komunitas kreatif hanya memberikan sebuah ide, sebuah percikan api kecil yang di kemudian hari akan diteruskan oleh warga api semangatnya.

TIdak semua kampung mungkin seramah kampung ini, Kampung Taman Hewan. Mereka dengan sepenuh hati mau membantu panitia dalam proses persiapan hingga puncak acara. Mereka dengan aktif dan dengan penuh semangat atau bahkan pengorbanan (agak sedikit meninggalkan rutinitas sehari-hari) membantu pengerjaan acara secara menyeluruh, dari proses pematangan ide hingga eksekusi teknis. Sayang, beberapa kampung mungkin tidak seterbuka ini, sayang. Dan seringkali saya merasa bahwa hal tersebut menjadi wajar ketika saya melihat bahwa warga kampung atau pemukiman padat sering dijadikan bulan-bulanan pembangunan, mereka sakit hati, mereke tidak melawan, mereka merasa tidak bisa melakukan perubahan.

Sifat kepasrahan pun pernah melanda warga Kampung Taman Hewan, namun puji Tuhan mereka pada akhirnya dengan antusias mau membantu panitia, membuka hati, diri, dan pikiran.

Pengalaman nyata yang saya rasakan adalah mungkin ketika panitia mengadakan buka bersama warga yang berlokasi di Kampung, untuk tujuan sosialisasi acara. Dengan memberikan uang seperlunya untuk keperluan konsumsi, dan beberapa alat tambahan untuk keperluan presentasi, sosialisasi pun berlangsung dengan sangat baik. Terbentuk sebuah dialog interkaktif antara warga dan panitia. Sangat kondusif, banyak pertanyaan dan kebingungan dari warga yang kemudian kami jelaskan, kami cerahkan. Dari masalah konsep hingga masalah taknis. Dialog sangat nyaman ini pun ditutup dengan sebuah jamuan amat sangat sederhana, namun nikmat luar biasa, agak berlebihan mungkin ya, tapi memang, saya harus memeberikan honorable mention pada author dari sambel pedas agak manis yang disediakan di meja jamuan. Belakangan saya merasa bahwa, warga Bandung adalah warga yang hangat dan ramah, bertutur kata akrab tapi sopan, perilaku yang santun, dan juga pikiran yang terbuka. Semoga kedepannya semua kampung, atau bahkan pemukiman urban di wilayah Bandung mampu menajdi sebuah pemukiman ramah yang terbuka, dan mau melestarikan kotanya.