Jurnal Kampung Festival #4: Riset Lapangan dan Jangan M*D*L Disinih

by gumilarganjar

Sebuah solusi kreatif, dalam kasus ini, acara Helarfest: Kampung Festival Tamansari, tentunya memerlukan sebuah proses riset yang cukup koheren agar eksekusi kreatif yang kemudian dilakukan tepat sasaran dan efektif. Memang, titik terjauh dari proses Kampung Kreatif adalah untuk membangun inisiatif masyarakatnya agar mau membangun kampungnya sendiri, namun tujuan besar tersebut agaknya bisa dibangun dari beberapa eksekusi yang sifatnya praktikal, misalnya, dengan membangun rasa kepemilikan warga pada kampungnya (seperti yang saya singgung sebelumnya) dengan sedikit menyematkan nilai pada situs tersebut.Tulisan ini akan saya persempit pada permasalahan mural atap, yang sebelumnya solusi kreatif dalam memecahkan masalah sosial dan ekonomi disini adalah dengan mengecat atap yang kemudian setidaknya akan memunculkan signifikasi secara visual, terlebih jika dilihat dalam sudut pandang bird-eye view atau sudut pandang manusia pada tempat tinggi, seperti jalan layang Pasupati.

Mural Atap yang akan dikerjakan pun direncanakan akan menggunakan warna biru sebagai background dari proyek ini. Warna ini dipilih berdasarkan nilai simbolis yang tersemat di dalamnya. Tidak cukup berlebihan jika warna biru dianggap mampu merepresentasikan Bandung, sebut saja Bandung yang dahulu sebagai Telaga tentunya menghiasi warna manusianya dengan biru, atau bahkan Persib, cukup kental dengan warna birunya. Biru akan mampu mewakilkan Bandung yang dahulu dikenal Telaga. Terlebih, sekiranya dapat dibentuk metafora bahwa Pasopati kemudian melintas diatasnya, melintas diatas Bandung yang dahulu adalah danau biru.

Warna biru sebagi latar kemudian akan dihiasi garis-garis berwarna yang akan dilukiskan pada titik temu atau puncak atap rumah-rumah kampung. Hal ini rasanya diperlukan untuk melukiskan keberagaman yang dimiliki masyarakat kampung pada umumnya dan masyarakat Bandung pada khususnya. Serta, garis-garis warna-warni tersebut diaharapkan mampu menyampaikan makna dari frasa Kebon Kembang sebagai tajuk dari kampung tersebut, yang sayangnya sudah tidak lagi terlihat dengan jelas pada kawasan kampung tersebut. Konsep inilah yang menjadi konsep awal selama pengerjaan mural atap, selanjutnya bisa saja terjadi beberapa penyesuaian jika memnag dibutuhkan.

Agak lumrah sekiranya jika konsep akan selalu bersitegang dengan lapangan, berangkat dari konflik ini, sebuah riset lapangan kami lakukan agar eksekusi teknis menjadi efisien dan kecelakaan kerja mampu diminimalisir. Dengan tujuan awal riset lapangan, kami merasa bahwa moment ini bisa juga disertai dengan proses sosialisasi ke warga, dengan sistem door-to-door, pintu ke pintu, kami pilih agar proses sosialisasi kepada warga menjadi lebih intim, meskipun mungkin agak kurang efektif.

Respon yang kami dapat selama proses tersebut pun cukup beragam, majemuk. Ada beberapa warga yang kemudian dengna cukup antusias menyetujui dan mengizinkan atapnya untuk dieksekusi, atau dicat, ada beberapa warga yang kurang tertarik namun masih mengizinkan atapnya untuk dieksekusi, dan ada pula warga yang menolak eksekusi lapangan.

Penolakan warga disini menjadi amat logis, mereka sadar dan paham betul rumahnya sudah berdiri puluhan tahun dan diindikasikan agak ringkih, rapuh dan juga cepat rusak, jika saja harus diinjak-injak selama proses pengecatan berlangsung.

Memang pada awalnya kami kewalahan untuk meyakinkan warga, namun dengan strategi perusasi yang baik, pada akhirnya warga dengan ikhlas bersedia untuk ikut serta dalam acara ini, setidaknya meminjamkan atapnya untuk kami eksekusi. Kebetulan riset pertama kami tentukan pada saat-saat puasa, di bulan penuh berkah itulah kami mencoba untuk sedikit berbagi kepada warga, setidaknya hanya kue lebaran seadanya, untuk menunjukkan bahwa kami cukup peduli pada mereka selaku warga kampung yang mungkin selama ini agak dilupakan eksistensinya oleh masyarakat luas.

Beberapa fenomena, atau kejangglan pun kami alami selama proses riset ini. Yang paling unik bagi saya priadi adalah, sebuah sign system yang bertuliskan “DILARANG MODOL DISINIH, JELEK LIATNYA” dekat sebuah toilet umum yang berada pada kawasan Kebon Kembang. Iya, benar, tulisan tersebut dicetak diatas kertas A4 yang kemudian dilaminating, dengan huruf arial black, secara tegas melarang warganya untuk (maaf) buang air besar sembarangan. Awalnya saya bingung, peradaban seperti apa yang dengan memperbolehkan warganya untuk (maaf sekali lagi) buang air besar sembarangan. Tapi ketika saya berada di lapangan dan mencoba mensimlasikan situasi genting hingga ada warga yang sampai hati atau lupa diri melakukan hal tersebut, beberapa penjelasan logis kemudian bermunculan dalam benak saya. Bagimana tidak, sebuah pemukiman padat penduduk dengan space rumah yang amat sempit tentunya memerlukan sebuah sarana toilet umum. Dan bayangkan jika setiap pagi warga harus berbondong-bondong mengantri untuk giliran bersih-bersih di pagi hari, semuanya bisa saja terjadi, manusia pun bisa lupa diri. Belum lagi persoalan ‘jelek dilihat’ menjadi tajuk utama dalam sign system tersebut, seolah bukan masalah kebersihan yang lebih dipedulkan warga, atau lebih buruk lagi, seolah warga kampuns\g sudah terbiasa denga lingkungan hidup yang kurang sehat.

Uraian diatas tidak saya maksudkan untuk (maaf) sedikit merendahkan waga, bukan. Hanya saja saya prihatin, amat prihatin dengan kondisi tersebut (meskipun pada awalnya saya merasa bahwa fenomena tersebut cukup jenaka, namun setelahnya hal ini bagi saya merupakan representasi dari akutnya kesenjangan sosial yang terjadi pada kawasan-kawasan kampung seperti ini). Buruknya sistem dan manajemen sanitasi kota boleh saja kita jadikan kambing hitam. Namun seperti apa yang telah kita ketahui, mereka, warga kampung, bukanalah warga yang mampu berdiri sendiri, perlu dukungan dari kita, selaku masyarakat yang lebih beruntung, dan kemudian melahirkan tanggung jawab kepada kita untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial, lingkunganm dan semoga saja budaya dengan bekerja sama dan mencoba peduli satu sama lain.