Jurnal Kampung Festival #5: Tentang Masyaraktnya

by gumilarganjar

Jurnal ini saya dedikasikan khusus untuk warga kampung Taman Hewan yang dengan sepenuh hati bersedia membantu panitiia, tanpa pamrih, dan tanpa imabalan materi,

Interaksi intens yang saya lakukan belakangan baik dalam tahap riset maupun proses pengerjaan kemudian memfasilitasi saya auntuk mampu berkenalan cukup dekat dengan beberapa warga RW 08 Kampung Taman Hewan. Awalnya, saya tidak mengira bahwa proses kolaborasi yang kami lakukan akan berjalan sekondusif ini (meskipun pada awalnya acara ini bertujuan untuk meningkatkan silaturahmi antara kaum kreatif dan masyarakatnya), dengan asusmsi bahwa warga kampung mungkin akan acuh tak acuh selama proses persiapan acara. Pikiran skeptis yang sebelumnya terbersit dalam benak saya kemudian dicerahkan dengan sikap dan tindakan warga kampung yang amat sangat mengapresiasi niatan (baik) kami, tanpa pretensi politis maupun ekonomi. Warga dengan amat tanpa pamrih bersedia membantu dan menyediakan persiapan penyelenggaraan acara Kampung Festival Tamansari. Pada jurnal sebelumnya saya utrakan bahwa kami sering merasa terlalu dijamu dengan baik jika kami mengunjungi kawasan tersebut, dan rasa salut tersebut terus melekat dalam benak panitia selama proses pengerjaan, dan saya rasa sampai kapan pun, ketika acara berakhir dan saya menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat tersebut.

Setiap kampung tentunya memliliki tokoh masyarakat, pun kampung ini, kampung Taman Hewan. Sebut saja Cuki, atau Tjuki, sering saya panggil Kang Cuki, karena usia dan juga wibawa serta peringainya (saya yakin ketika beliau akan terbahak-bahak membaca kalimat ini). Bandung memang sempit, saya cukup kaget ketika menjadari bahwa beliau adalah personil Tjukimay, iya, Tjukimay, band thrash-punk (maaf jikalau tidak valid) yang bagi sebagian orang sarat anarkisme dan blablablanya, nama panggilan Cuki pun tercetus dari nama grup musiknya. Tapi ternyata tidak seperti itu, beliau adalah individu yang cukup mulia, agak berlebihan mungkin ya. Banyak pelajaran yang saya dapat dari dia, beberapa diantaranya bahkan membuat saya cukup tercengang, ini itu dan sebagainya. support yang luar biasa besar saya dapat dari beliau, mulai dari pengayaan sarana dan fasilitas, mediasi ke warga lain, kordinasi keamanan acara, kebersihan, hingga revisi konten acara yang pada akhirnya ikut mensukseskan acara ini, seringkali bincang-bincang pun berujung pada berbagi referensi musik, beberapa diantara playlist beliau dan saya beririsian di beberapa genre. Proses sharing tidak berhenti disitu, banyak materi tentang bagaimana menjalani hidup dengan baik saya dapatkan dari beliau, juga psikologi warga kampung. Menarik ketika saya diperkenalkan pada beberapa fakta yang agak-agaknya kurang baik jika saya tuliskan disini, namun penting dalam proses persiapan acara, membantu, sangat membantu. Dan pada akhirnya saya merasa dianggap sebagai adik, ya seorang adik (seperti rasanya punya kakak punkrockstar), pun kontributor yang lain, kami dijamu, dan juga dilayani dengan baik. Banyak cerita yang menyebutkan bahwa beliau rela menyempatkan diri untuk membina kampungnya, menyediakan berbagai ide demi kebaikan warga, dan bahkan, mencoba memberikan lapangan pekerjaan pada beberapa warga yang kurang beruntung. Beliau bukan orang bergelimang harta, bukan, tapi seorang warga yang tergerak hatinya untuk memasyarakatkan masyarakatnya, memanusikan manusia sekitarnya, dan juga, memperkenalkan warga kepada dunia urban, beserta budayanya.

Tokoh kedua yang sekiranya harus saya tuliskan disini adalah Pak Kurnia, atau lebih sering saya panggil Mang Nia. Seorang warga kampung yang cenderung pemalu, tidak banyak bicara, lebih sering diam dan mendengarkan, namun tidak pernah sungkan untuk memberikan masukan, dan juga memberi support dalam acara ini. Sering sekali kami harus merepotkan beliau selama pross pengerjaan acara dan kembali, sebagai warga yang tergerak untuk mengembangkan kampungnya, beliau dengan semangat membantu kami, dan lagi, tanpa pretensi apapun. Banyak cerita yang saya dengar tentnag beliau dari bincang-bincang warga, beliau adalah warga yang amat aktif dalam organisasi Karang Taruna, dan selalu terpilih menjaid ketua Karang Taruna selama hampir 2 dekade, baru beberapa waktu belakangan beliau enggan untuk menjabat sebagai ketua, karena beliau khawatir bahwa kaum muda kampung tersebut nantinya enggan untuk melanjutkan rantai estafet semangat pemuda yang dahulu dipegang oleh Mang Nia.

Tentunya masih banyak sekali individu yang harus saya sebutkan menimbang banyak sekali kontribusi warga yang kami dapatkan dalam kelangsungan acara ini, seperti Pak Giri, sang kepala Pertahanan Sipil warga GASEPAN, Pak Hendi sebagai warga yang mengurusi perimeter persiapan maupun hari acara, namun sayangnya saya belum bisa menuliskan semua warga yang banyak membantu kami. Namun apa yang lebih penting dari semua hal tersebut adalah, bahwa masih ada warga kampung yang mau membangun kampungnya sendiri, mau berkorban demi kampungnya sendiri, dan terbuka pada dunia luar. Saya harap kreatif muda lainnya tidak segan untuk turut terjun ke kampung dan mencoba encari solusi untuk menengahi masalah-masalah tipikal yang terjadi pada kawasan pemukiman padat.