Jurnal Kampung Festival #6: Akupkuntur Kota dan Kampung Kreatif

by gumilarganjar

Sebelumnya saya terangkan bahwa Helarfest: Kampung Festial Tamansari termasuk dalam program Akupkuntur Kota dengan mewujudkan 5 Kampung Kreatif yang digagas oleh Bandung Creative City Forum (BCCF), dan jurnal ini saya kerucutkan untuk sedikit membahas tentang program Kampung Kreatif tersebut. Apa yang saya tulis disini berasal dari informasi yang saya dapat sedikit demi sedikit dari pihak BCCF, kembali saya terangkan bahwa jurnal ini saya buat dalam prespektif saya sebagai seorang kontributor junior, bukan sebagai copywriter BCCF, sekiranya saya mohon maaf sejak dini  jika terdapat beberapa kesalahan dalam pembahasan selanjutnya.

Akupkuntur, jika dilihat dari etimologi bahasanya berarti sebuah terapi kesehatan tradisional (pengobatan alterantif) yang berasal dari Cina. Sebagai sebuah terapi pengobatan, saya melihat bahwa isitilah akupkuntur kota diperuntukkan untuk ‘mengobati’ kampung-kampung yang tentunya, hadir bersamaan dengan segala permasalahan yang cenderung kompleks. Konsep pengobatan alternatif pun disini menguatkan bahwa program tersebut dilakukan oleh pihak-pihak alternatif, atau dalam kasus ini, pihak kreatif, bukan oleh pihak yang seharusnya melakukan perombakan sebagaimana mestinya.

Masalah-masalah yang terdapat pada pemukiman padat di tengah kota terlihat amat kompleks, sangat kompleks. Dari wilayah pragmatis praktis hingga masalah-masalah yang lebih konseptual. Seperti masalah-masalah sosial, kultural, ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan entah berapa masalah lagi yang harus saya tuliskan. Warga kampung seringkali menjadi bulan-bulanan pembangunan, mereka terlantar dan cenderung tidak dilihat sebagai komunitas yang memiliki signifikasi yang pantas dilihat, padahal, mereka ikut mengembangkan roda perekonomian kota.

Kehilangan rasa kepemilikan saya rasa merupakan masalah utama dari segala permasalahan pemukiman-pemukiman seperti ini (seperti yang saya singgung sebelumnya), dan mengembalikan rasa kepemilikan-lah saya rasa dapat mejadi solusi utama akan masalah-masalah tersebut.

Mengembalikan rasa kepemilikan warga dapat diwujudkan dengan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh sebuah kampung. Salah satu contohnya, adalah Kampung Akustik yang berlokasi di wilayah CIcadas, Bandung. Cicadas yang bagi masyarakat Bandung adalah pemukiman sangat padat yang tentunya akan disertai dengan friksi-friksi sosial yang mampu memicu hadirnya tindakan-tindakan kriminal. Impresi ini yang melekat pada kawasan Cicadas selama beberapa lama, namun program Kampung Kreatif melihat bahwa Cicadas memiliki potensi-potensi khusus yang sayang jika tidak dikembangkan. Meidasi yang dilakukan pihak kreatif kemudian mengarahkan masyarkatnya untuk membentuk sebuah komunitas kreatif yang menghimpun oengamen-pengamen jalanan dan diarahkan untuk memberikan output berupa kegiatan-kegiatan yang lebih terstruktur sehingga pada akhirnya diharapkan dapat memberikan manfaat. Salah satu wujud nyata dari program ini adalah lahirnya beberapa lagu yang dibuat oleh pengamen-pengamen jalanan yang kemudian direkan dengan penanganan yang profesional, sehingga lagu hasil rekaman dapat dinikmati masyarakat lebih baik. Program lainnya adalah Kampung Festival Tamansari dengan output berupa acara Desa Taman Hewan Festival dan Mural Atap Tamansari.

Masih ada beberapa Kampung Kreatif binaan BCCF yang belum bisa saya ceritakan karena masih kurangnya informasi yang saya dapat. Namun tetap, apresiasi yang luar biasa akan selalu tertuju pada BCCF karena inisiatifnya dalam membina dan membangun kota Bandung menjadi kota yang lebih baik, dan yang pasti, menjadi kota yang selalu kreatif.