Jurnal Kampung Festival #8: Ketika Dewa Pragmatika Bekata Tidak

by gumilarganjar

Selalu dan selalu, sebuah ide yang sifatnya abstrak akan bersinggungan dengan hal-hal teknis pragmatis praktis yang seringkali menyulitkan. Disini, saya merasa bahwa teknis selalu menjadi sebuah substansi yang harus saya hadapi, dan seringkali menjadi bulan-bulanan. Terlebih karena kami berlatarbelakangakan akademi yang seypgyanya dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan abstrak yang sifatnya konsptual, aspek teknis dan lapangan selalu saja membuat kami harus mengernyitkan dahi karena mendatangkan beberpa hambatan yang mau tidak mau kami hadapi. Terlebih saya, selaku manusia dengan kemampuan abstrak yang cukup koheren dan selalu saya gunakan, teknis akan selalu menjadi masalah. Beruntung, ada beberapa dari kami yag memang memiliki kelebihan dalam penanganan teknis sehingga semua hambatan teknis dalam pengerjaan acara bisa disiasati. Saya pribadi dulu pernah cukup aktif berada di lapangan sehingga tidak terlalu terkejut ketika ada masalah-masalah diluar dugaan yang sebelumnya belum terumuskan dalam progresi pergerakan kami, tapi tetap saja, karakter abstrak seseorang akan selalu dikesalkan oleh masalah-masalah teknis.

Contoh kasus, selalu dibutuhkan untuk membuat pernyataan abstrak diatas menjadi lebih kongkrit dalam prosses deskripsinya. Pertama yang pernah saya singgung sebelumnya, rapuhnya atap warga yang kemudian menimbulkan kekahwatiran dalam benak warga kemudian agak menyulitkan proses birokrasi kami kepada warga. Wajar ketika warga pemukiman padat amat khawatir dengan atapnya dan selalu memiliki tendensi negatif dalam proses pengerjaannya. Riset lapangan kami akui agak kami abaikan, tidak seperti pengembangan konten acara yang selalu menjadi konsentrasi kami. Wwajar ketika warga meminta penjelasan teknis yang amat jelas sehingga mereka mampu memprediksi kerusakan-kerusakan yang terjadi. Beberapa kali kami yaknikan bahwa kami bekerja sama dengan pihak professional dalam proses pengecatan, namun label mahasiswa dengan konotasi kurang pengalaman seringkali menjadi bumerang bagi kami, kami lupa bahwa waga agak sensitif dengan kerusakan, apalagi berkenaan dengan properti yang mereka miliki. Beruntung, ada beberapa pihak yang sangat mengerti pengecatan atap mau membantu kami, sehingga kami bisa menjelaskan pada warga bagaimana planning pengecatan atap dari aspek pragmatis dengan cukup meyakinkan, didampingi dengan beberapa kata berlabel hukum yang menyatakan bahwa kerusakan akan ditanggung panitia. Tapi tak apa, hal ini kemudian menyadarkan kami bahwa masyarakat luas akan selalu seperti itu. 

Kasus kedua, adalah pembangunan podium bambu, alih-alih kami menyelesaikan pengerjaan bambu, konstruksi beton yang kami rencanakan akan selesai pada seminggu setelah acara ternyata tidak bisa terlaksana sesuai jadwal. Hal ini dipenagruhi oleh beberapa aspek teknis seperti salah pengukuran tulang-tulang besi cor, dan juga spare waktu yang harus disediakan sehingga bungkus (maaf, saya lupa padanan kata yang tepat) bisa beton bisa dibuka dan kosntruksi beton dapat menopang bebannya sendiri. Bagai disambar petir, teknisi konstruksi saung bambu berujar bahwa proses pematangan beton masih memerlukan waktu sekitar beberapa minggu setelah acara, batu mereka berani mengerjakan kosntruksi bambu setelahnya. Mereka, sang teknisi, agak kahwatir juka umur pengecoran beton yang masih teramat muda tidak mampu menopang beratnya, konsekuensinya, konstruksi harus diulang dari awal, dan tentu saja, dengan biaya yang tidak sedikit, minimal satu motor baru barangkali. Permasalahan zoning blocking dan layout panggung pun harus kami rubah 2 hari sebelum acara, sangat merepotkan, tapi kami berusaha tenang dalam menyikapi dan mencari solusi. Alhasil, panggung dadakan yang kami rencanakan dalam waktu yang sempit mampu menguasi ruang lapangan tengah warga dengan cukup baik, meskipun tidak megah dan agak tidak sesuai dengan konsep acara pada awal. Tapi, setidaknya kami mengerti dan akan lebih berhati-hati kedepannya.

Dua contoh diatas kemudian menyadarkan kami, terutama saya, bahwa riset lapangan selalu dan selalu harus kami pertimbangkan dengan matang, bukan sesuatu yang bisa dikesampingkan. Memang, teknis akan selalu terdengar sepele, namun tetap saja sesuatu yang signifkan dan harus selalu dipertimbangkan.