Jurnal Kampung Festival #9: Pada Harinya!!!

by gumilarganjar

Dua puluh, dua puluh satu, dan dua puluh dua september dua ribu dua belas. Adalah tiga hari yang paling merepotkan, paling menyebalkan, sekaligus paling menyenangkan. Saya sebisa mungkin menikmati acara, karena seperti siapapun tahu, seorang panitia tidak akan pernah menikmati acara yang dibuatnya. Saya tidak mau terlalu dipusingkan dengan tugas yang diberikan pada saya, tapi bukan berarti saya mengabaikan tugas saya, pun, itu yang dilakukan kami. Berutung acara hanya sedikit terganggu oleh hujan, dan sisanya berlangsung dengan amat lancar.

Perencanaan yang kami lakukan berjalan dengan cukup baik dan minim interupsi. Beruntung zoning blocking dan keamanan dibantu warga sepenuhnya dalam proses eksekusi, semantara kami hanya memberikan gambaran awal, disamping akomodasi bagi panitia yang juga disediakan dengan baik sehingga kami mampu mengurusi jalannya acara dengan tanpa segan, merasa kawasan tersebut adalah kawasan yang tidak asing bagi kami.

Kamis, dua puluh september adalah hari pertama yang diisi oleh workshop melukis dari Hay Man Movement dan hari pertama pengerjaaan mural lapangan oleh TPB FSRD 2012, juga dibantu oleh kawan-kawan senior KMSR yang dengan senang hati mengurusi adik-adiknya. Hari mendung dan agak hujan tidak menyurutkan semangat yang telah kami jaga, workshop melukis dengan cukup hangat mengajak warga terutama anak-anak kecil susia SD untuk mengeluarkan ekspresi dan mencoba mengaktualisasikan dirinya. Pengerjaan mural lapangan pun terlakasana dengan cukup lancar, hanya sedikiti diganggu oleh udara lembab sehabis hujan, tapi aroma hujan di kampung seperti membawa romantisme alam yang sudah lam tidak kami rasakan. Malam harinya diisi oleh workshop ‘Motret Kampung’ yang difasilitasi oleh AIR FOTONETWORK dengan pembicara Kang Galih Sedayu yang juga menjabat selaku sekretasis program BCCF dan Kang Dudi dari Pikiran Rakyat. Agak disayangkan warga agak malu-malu turun ke lapangan dan cenderung memilih menonton workshop dari pinggiran lapang, dan peserta utama malah menjadi mahasiswa tingkat pertama FSRD, tapi bagi saya hal ini cukup tepat sasaran karena banyak sekali respon yang diberikan mahasiswa berupa pertanyaan kepada para ahli fotografi, saya tahu mereka memiliki minat yang besar pada fotografi, karena mereka calon manusia yang akan peka terhadap visual dan beberapa moment bernilai yang kali ini akan mereka rekam dalam pita sensor kamera.

Jum’at, dua puluh satu Sepetmber, hari ini acara masih diisi oleh serangkaian kegiatan yang mungkin hampir mirip, workshop melukis layang-layang oleh Hay Man Movement, pengerjaan Mural Lapangan Tengah, dan terakhir screening film oleh komunitas Layar Kita yang menampilkan sebuah flm (yang kembali saya lupa judulnya) namun tetap sesuai dengan kondisi warga sekitar, menceritakan bagaiaman sebuah kawasan pemukiman padat atau kampung yang masih bisa menggeliat.

Terakhir, Sabtu, 22 September adalah hari tersibuk selama keberlangsungan acara karena memang rangkaian acara untuk hari ini adalah yang paling padat dan sarat konten. Diisi oleh penampilan dari warga dan beberapa musisi yang konten musiknya kami kurasi agar memenuhi tujuan awal, yakni memperkenalkan warga pada singgungan kebudyaan kontemporer. Agak sayang memang ketika kepengurusan penampilan warga agak berjalan kurang kondusif karena beberapa Liasion Officer kurang bisa bekerja dengan cepat dan kami selalu harus mengingatkan, ada rasa sedikit segan ketika kami harus sedikit mengurusi jalannya acara warga. Namun, terbatasnya waktu harus selalu harus kami pertimbangkan. Acara penampilan warga kemudian ditutup oleh kesenian gamelan khas Sunda, Jawa Barat, dari warga sendiri yang berakhir tepat lima belas menit sebelum adzan Maghrib. Setelah break Maghrib, acara mulai dilanjutkan pada pertunjukan seni musik kontemporer yang pertama kali dibuka oleh Trah Project, moment ini menjadi menarik karena konsep yang Trah tawarkan adalah merajah tempat, mendoakan kampung agar senantiasa dilimpahi berkah oleh yang Maha Kuasa yang disimbolkan dengan adanya hujan, dan menarik, ketika pawang hujan (percaya tidak percaya kami selaku mahasiswa kreatif yang amat rasional dan strategis masih memerlukan nuanasa magis dan supranatural demi keberlangsungan acara)  tidak mampu menahan limpahan berkah berupa hujan yang difasilitasi oleh Trah, beruntung, ketika Trah selesai merajah kawasan, hujan rintik-rintik mulai bisa dikendalikan, sangat menarik, ketika mantra mereka berdua beradu,  dan saya disana hanya bisa tercengang. Acara pun dilanjutkan pada beberapa performer lainnya dengan nunasa musik kontemporernya yang beragam. Selalin acara musik, acara ini juga sempat dibantu oleh Pak Tisna Sanjaya (dosen saya) dengan performance art-nya yang meninggalkan artefak sebuah karya seni diatas kanvas dan kemudian disimpan warga. Perforamance yang dilakukan Pak Tisna merespon penampilan musik panggung, sehingga integritas terasa diantara keduanya, lebur dalam sebuah kesatuan. Acara kemudian ditutup dengan Video Mapping dari INTERAKTA: Himpunanan Mahasiswa Studio Seni Intermedia FSRD ITB menampilkan serangkaia video animasi yang diproyeksikan kepada fasad rumah warga yang juga meresponya. Konten mapping sudah kami perhitungkan sebelumnya sehingga dapat menyampaikan maksud kami untuk memotivasi warga untuk kembali memiliki dan mengembangkan kampungnya. Cukup menarik ketika warga terheran-heran bahwa fasad ruamhnya bisa menjadi ‘buricak burinong’ seperti itu, canggih, dan sangat keren. Bersyukur, maksud kami untuk memperkenalkan karya seni yang beriringan dengan progresi teknologi mampu kami perkenalkan kepada warga.

Video Mapping adalah pertanda bahwa acara selesai. Warga beserta pengunjung puas dan panitia lemas.

HATUR NUHUUUUNNNNNNN!!!!!!!!!