Ja’u TImu: Serangkaian pameran dan dialog ketimuran. HIstobiografi A. D. Pirous dalam seni grafis.

by gumilarganjar

Tidak lengkap rasanya jika tidak mencantumkan nama Abdoel Djalil Pirous dalam konstruksi sejarah perkembangan seni rupa Indonesia dewasa ini. Hal ini boleh jadi disebabkan oleh cukup kuatnya signifikasi beliau dalam medan sosial Indonesia, tidak berlebihan jika beliau disebut sebgai maestro dan founding father dari seni lukis kaligrafi Indonesia.

Belakangan ini, telah digelar serangkaian pameran yang disertai dengan seminar, artist talk, dan peluncuran buku. Pengayaan serangkaian acara tersebut berkenaan dengan perayaan ulang tahunnya yang ke-80. Tidak tanggung-tanggung, dalam satu bulan beliau berkesempatan untuk dua kali berpameran tunggal. Pertama, pameran tunggal karya-karya lukisnya yang difasilitasi oleh Selasar Soenaryo Art Space dan kedua, pameran karya-karya cetak/grafis Pirous di Galeri Soemardja, FSRD ITB. Di sela-sela berlangsungnya pameran tersebut diadakan seminar ‘Manfaat Seni untuk Indonesia’ dan peluncuran buku. Semua terangkum dan terlaksana dengan baik dan diharapkan mampu menginspirasi seniman, praktisi, akademisi, kurator, serta pihak-pihak lainnya yang kemudian terangkum dalam medan sosial seni rupa Indonesia.

Rangkaian acara ini diawali dengan pameran Ja’u Timu (mengarahlah ke Timur) yang diselenggarakan di Selasar Soenaryo Art Space pada tanggal 11 Maret dan berakhir pada tang8 April 2012, menampilkan tak kurang dari 177 rangkaian lukisan yang Pirous kerjakan sejak tahun 1960 hingga 2012. Sebuah jumlah karya yang amat banyak untuk sebuah pameran tunggal. Selain serangkaian lukisan, pameran ini pun menampilkan essai-essai yang Pirous kerjakan semasa hidupnya hingga sekarang, banyak berkutat mengenai respon beliau akan perjalanan seni rupa modern Indonesia dan menyematkan kecenderungan spiritual di dalam tulisan-tulisannya.

Tajuk pameran Ja’u TImu, dipilihnya karena unsur memento yang terkandung di dalam frasa tersebut. Seperti yang ditulis pada katalog pameran, Pirous pernah dinasehati ayahnya pada usia ke-14, taun 1946, dengan kalimat “Djalil, Ja’u Timu! (Djalil, Pergilah ke TImur)’ Hal ini kemudian dikembangkan dengan begitu apik dalam merespon kecenderungan karya Pirous yang amat beragam, dengan pengantar sebuah kuratorial oleh Aminudin T. H. Siregar. Gambaran awal yang kemudian terbentuk di beank apresiator dalam mencerna potongan kalimat ini mungkin adalah bahwa manusia TImur, seyogyanya harus merenungkan kembali ketimurannya dalam penggalan jaman dengan budaya yang saling berkaitan dan tumpang tindih satu sama lain, untuk mampu menentukan jati diri dan identitas manusia Timur seutuhnya.

A. D. Pirous, dengan sangat konsisten bergelut dengan seni kaligrafi yang berasal dari Saudi Arabia, sebuah tempat yang lekat dengna budaya Islam dan kiblat bagi umat muslim di seluruh dunia. Warisan budaya kaligrafi yang begitu kental melekat dalam diri Pirous tentunya dipengaruhi oleh konstruksi sejarah yang menyatakan bahwa pada masanya, para saudagar dan pedaganag Arab sering mennyinggahi kampung halaman Pirous, Aceh, yang juga dijuluki sebagai Serambi Mekkah. Kedekatan Pirous dalam kaligrafi ini pun terus menyertai proses kreatif beliau hingga sekarang, dari perantauannya ke Bandung pada usia ke 23 hingga saat ini. Konsistensi beliau dalam menyertakan substansi kaligrafi ini pun ternyata menempatkan beliau dalam garis depan ‘pendekar’ seni rupa modern Indonesia. Ciri khas dari lukisan kaligrafi Pirous adalah unsur profan yang tersematkan dalam karyanya. Dalam prespektif umum Indonesia, huruf-huruf Arab selalu bekonotasi religius dan Islamiah, yang kemudian menjadikannya terlampau sakral untuk diemplemantasikan dalam kehiduopan keseharian. Hal ini yang ingin disangkal Pirous bahwa seyogyanya sakralisasi yang kepalang tinggi tersebut justru menjauhkan umat dari pedoman hidupnya, AL-Quran. Namun meskipun begitu beliau tetap menjaga tata krama dalam mengolah potongan-potongan ayat Al-Quran meski dalam tendensi  respon akan ketimpangan sosial.

Pirous berujar, “Saya tidak hendak berdakwah melalu lukisan, Lukisan bagi saya adalah medium yang saya gunakan untuk berkomunikasi dengan Tuhan”. Hal ini disinyalir dapat menjelaskan pola kerja beliau yang amat rapi dan teratur, ketika melukis dipahaminya sebagai salah satu bentuk ibadah, selain fungsi lainnya yang juga merespon problematika sosial. Meskipun tidak ada tendensi dakwah, bukan berarti bahwa melukis tidak memenuhi kebutuhan spiritualnya. Perlu dipahami bahwa seyogyanya spiritualitas (kerohanian) dan religiusitas (keagamaan) adalah substansi yang berbeda dan dapat dipisahkan meskipun religiusitas adalah salah satu irisan dalam spiritualitas yang terlanjur dipahami masyarakat sebagai hal yang sama. Pemisahan dan pemilahan ini akan cukup memabntu apresiator dalam memahami karya-karyanya.

Lukisan kaligrafi Pirous seyogyanya tidak sekonvesional kaligrafi pada umumnya. Beliau mencoba untuk keluar dari tradisi khattiyah kaligrafi Islam seperti tsukutsi, kuthi, difani, naskhi, farisi, dan sebagainya. Pembebasan ini beliau lakukan untuk memenuhi kebutuhannya dalam menelaah dan mampu menjawab problematika sosial masyarakat, tidak lagi semata-mata menyajikan sesuatu yang serba sakral. Perkembangan khat yang Pirous lakukan pun mengganjarnya dengan istialh mazhab Pirousi / mazhab Djalil untuk menunjukkan kecenderungan estetika kaligrafi beliau. Seorang ahli kaligrafi Islam Indonesia, SIrodjuddin A. R. mengungkapan bahwa masih terdapat akra dari khat Pirousi, yakni mengacu pada khat Yaquti, khat Rayhani, Abbasi, Isma’ili, Gazlani, dan Nasri. Kutipan-kutipan ayat Al-Quran yang beliau tampilkan dalam karyanya tentu tidak mendahului maksud perwahyuan sebelumnya, pengutipan ini beliau lakukan semata untuk merespon pengalaman priibadinya atas peristiwa-peristiwa penting tertentu dan dalam memahami gejolak kehidupan sosial yang dialaminya,

Kegelisahan mengenai jati diri ketimuran yang dialami Pirous merupakan isu yang sering beliau diskusikan. Hal ini boleh jadi karena pengaruh konteks zaman ketika beliau mulai aktif berkarya dan belajar di Bandung sebagai seniman pada tahun 1950-an, yang menyerukan identitas asli bangsa Indonesia mulai semerbak dalam atmosfer dunia intelekteual dan cendikia Indonesia. Pirous menyerap dan mempelajari estetika modern pada studinya di Bandung melalui guru-guru Belandanya, terutama Ries Mulder. Ajaran Ries Mulder mengenai estetika modern yang cenderung formalis terkesan membutakan mata seniman Indonesia atas identitas ketimurannya sendiri, diperkuat dengan impresi bahwa mengerti tradisi seni lukis modern seolah memberikan penghargaan yanga amat tinggi di kalangan cendikia, sebagia ahli waris dunia yang sah untuk melukis, sebagai salah satu bagian dari laju roda kehidupan modern yang universal. Pirous sendiri berujar bahwa pada masa tersebut  beliau belum cukup mempertimbangkan identitas dirinya sebagai mabusia TImur, namun lebih disibukkan dengan mempelajari tata cara melukis dalam bingkai modernisme yang amat konvensional. Pucnak dari keteganagn identitas ini beliau alami semasa persinggahannya di Amerika pada awal 1970-an. Pada masa tersebut, beliau mulai memprtanyakan validitas atas unsur-unsur formalism dan niliai-nilai seni modern yang direaspi sebelumnya yang kala itu dianggap universal. Pirous terpukul dengan absennya nilai karya-karya pelukis Indonesia di galeri dan museum-museum di New York. Hantaman ini kemudian memberinya peajaran akan arti penting identitas diri yang hakiki itu sendiri,

Melalui serangkaian pelajatan dan pembelajarannya, akhirnya pun dia mampu mengatkan bahwa, “Barangkali orang perlu ke Barat dahulu untuk memahami Timur, atau mungkin juga orang bisa terlebih dahulu mengahyati hakikat Timur dan menemukan Barat di dalamnya”. Petikan ini seolah menyadarkan kita akan dominasi nilai-nilai Barat yang seringkali mensubordinasikan ke-Timuran sebagai unsur mendasar manusia Indonesia. Dalam hal ini pun nampaknya perlu dipahami bahwa perlunya mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis ulayat (indigenous) yang berpusat di Asia untuk memahami realitas yang ada di masyarakat TImur (Asia) itu sendiri, tidak melulu berkiblat kepada Barat yang lebih dulu maju. Terakhir, Ja’u TImu menurut Pirous adalah “visi, etos, spirit, kepada siapa saja untuk berani berkata “ya” kepada hidup; untuk mengarah ke penjuru kehidupan yang lebih baik.

Parparan diatas seyogyanya adalah benang merah yang mencakup latar belakang, konsep karya, kesadaran media, dari kecenderungan karya Pirous selama ini. Dan dalam pameran lanjutannya yang diselenggarakan hampir 2 minggu setelahnya, yakni tanggal 20 Maret 2012 hingga 8 April 2012, galeri Soemardja berkesmpatan untuk memamerkan karya-karya grafis yang dibuat oleh Pirous. Pameran ini diberi judul “Meninggi, Mendalam, dan Menyaring” sebagai jargon yang amat dekat dengan para penggrafis, mengingat teknik teknik grafis dibedakan dengan isitilah istilah ini, antar lain cetak tinggi, cetak dalam, cetak datar, dan cetak saring. Pameran ini lebih menekankan pada eksplorasi teknis yang Pirous kerjakan, mengingat aspek konten karya pernah diungkap pada pameran sebelumnya di Selasar Sunaryo Art Space. Tajuk ’40 Tahun Grafis-grafis A.D. Pirous’ mengantarkan apresiator pada sebuah bingkai retrospketif rangkaian karya beliau yang dikerjakan selama 40 tahun dair tahun 1956-1996. Dalam kurasinya, Aminudin ‘Ucok’ Siregar lebih banyak membahas mengenai aspek teknis grafis itu sendiri, terlebih seni grafis memang amat tergantung pada aspek teknis karya, kurasi pun lebih fokus pada perkembengan dan keragaman penggunaan media cetak yang Pirous gunakan.

Mengutip perkataan A.D Pirous, “Seni grafis yang dicetak dengan prosedur yang benar denagn sendirinya membutuhkan cara melihat yang benar. Dengan begitu, kekuatan dan keistimewaan seni grafis yang sesungguhnya akan muncul”, terkesan menekankan aspek teknis dan bagaimana mengapresiasi kaya grafis itu sendiri. Pirous menyadari bahwa baginya, seni grafis bukanlah kecenderungan media dengan skala prioritas kedua yang beliau gunakan untuk memenuhi kebutuhan berkeseniannya. Namun lebih beliau pahami sebagai medium lain selain seni lukis yang menawarkan sebuah kepuasaan tersendiri, dan bentuk eksplorasi lain. Proses berkarya grafis bahkan sering mengilhami proyek-proyek lukisannya. Kedua medium ini saling berineraksi satu sama lain, dan juga terus mempengaruhi hingga mencapai sebuah kematangan eksplorasi guna melahirkan sebuah karya seni yang penuh.

Kecenderungan karya pada pameran ini kiranya dapat digolongkan kedalam tiga kelompok, yakni karya cetak tinggi, cetak dalam, dan cetak saring. Karya-karya cetak tinggi Pirous adalah karya-karya yang beliau selesaikan semasa studinya di ITB, pada jenis media ini, Pirous lebih sering menampilkan objek-objek profan keseharian seperti landscape dan kejadian-kejadian yang lumrah kita temui sehari-hari. Terlihat bahwa pada masa studi ini, beliau masih bereksplorasi dengan kaidah-kaidah teknis dan visual karya saja, belum kepada substansi spiritual yang menjadi ciri khasnya. Kedua, serangkaian karya etsa dengan teknik color viscosity pun dipamerkan dalam pameran ini, color viscosity adalah sebuah teknik perkembangan dari etsa yang tergolong pada intaglio, namun dengan memanfaatkan kekenyalan dan perbedaan kekentalan tinta, teknik ini memungkinkan pengaplikasian banyak warna pada sebuah plat / matriks logam etsa. Namun sayangya, keterbatasn media seolah menghambat perkembangan teknik ini di kalangan penggiat grafis Indonesia. Kecenderungna karya etsa Pirous dengan teknik ini sudah memunculkan citraan-citraan spiritual yang beliau kembangajan seraya dengan pengerjaan karya-karya lukisnya. Terakhir, adalah karya-karya cetak saringnya, cetak saring sebagai media grafis yang dalam bidang konvensional ditemukan paling akhir merupakan media yang menurut PIrous dapat dikembangkan dengan baik, karena kemudahannya untuk mendapatkan alat dan media untuk mendukung proses kreasi karya cetak saring. Pada karya cetak sablonnya, Pirous seolah menampilkan visual-visual yang cenderung eklektis dengan menghadirkan banyak penggalan-penggalan budaya. Seolah-olah ikut larut dalam laju perkebanagn budaya popular di dunia kala itu.

Dalam sebuah diskusi mengenai karya-karya grafisnya, Pirous amat menekankan bahwa etos kerja dan semangat adalah modal yang amat penting dalam bingkai seni grafis. Terlebih karya grafis memerlukan keteltitan dan kejelian lebih dalam prosesnya, baik dalam persisapan plat atau matriks hingga ke proses pencetakan. Proses penciptaan karya grafis mempertemukan banyak variabel seperti alat dan bahan yang amat mempengaruhi satu sama lain. Sehingga amat disayangkan jika hadir sebuah cacat dalam serangkaian prosesnya. Diskusi ini kemudian cukup menyemangati para calon seniman muda grafis yang terlanjur dibuai oleh nilai praktis dari lahirnya teknologi teknologi yang mempermudah kehidupan manusia.