French Fries dan atau Karya Seni: Tinjauan Singkat Sosiologis

by gumilarganjar

Prawacana, seni yang belakangan menjadi komoditi

Komodifikasi seni, akan selalu menjadi wacana yang menarik dalam perkembangan seni rupa di Indonesia, atau bahkan dalam ruang lingkup yang lebih besar, seni rupa global. Perkembangan peradaban manusia pada era post-modern yang kemudian mengantarkan dunia hampir seara serentak pada sistem ekonomi neo-liberal memicu kegiatan investasi antar-nasional, pasar bebas, dan kapitalisme. Perkembangan ini pun menjangkiti seni rupa. Label harga tinggi pada karya seni yang notabene memiliki nilai estetik-filosofis yang baik belakangan ini bergeser, nilai ekonomis sebuah karya tidak serta merta ditentukan dari nilai estetika atau filosofinya saja, namun ditentukan pula oleh beberapa vaiabel yang berkaitan dengan singgungan sosiologisnya. Seni kemudian tidak selalu memenuhi tugasnya sebagai representasi peradaban, tapi juga marak dijadikan sebagai media investasi. Fenomena ini tidak selalu berkonotasi buruk, namun sudah sewajaranya seni kemudian mengikuti perkembangan semangat zaman yang terus berubah. Dan pada titik ini, komodifikasi terhadap hampir apapun yang disetir oleh kapitalisme sebagai motor penggerak utamanya.

 

Sekelebat tentang medan seni, dengan pasar sebagai fokus utama.

Howard S. Becker, seorang institusionalis di bidang seni dengan tegas menjabarkan medan seni rupa kontemporer global dalam prespektif yang sangat pragmatis. Beliau menyatakan bahwa sangat wajar ketika kemudian karya seni diperlakukan sebagai sebuah komoditi. Menurut Dirk Boll, dalam buku Art for Sale, Seni sebagai komditi tentunya memerlukan promosi dalam proses penjualannya. Proses promosi kemudian dilakukan dengan mediasi pameran yang diinisiasi oleh kurator dan galeri, kemudian terjadi penjualan karya secara langsung kepada art dealer atau galeris (konvensi medan seni memang melegitimasi direct purchase oleh art dealer) di pasar primer, yang kemudian dilelang di balai lelang dengan sasaran kolektor-kolektor seni sebagai pasaran sekundernya.

Pembahasan menarik terjadi pada pasaran sekunder, atau pelelangan karya dalam sebuah auction house. Dalam kasus ini, pelambungan harga karya seni sering dlikaukan pelaku-pelaku pasar dengan motif (biasanya) uang dibelakangnya. Fenomena ini di Indonesia sering disebut sebagai ‘penggorengan’ karya seni. Becker menyatakna bahwa…

…composed of all the people involved in the production, commission, preservation, promotion, criticism, and sale of art. Howard S. Becker describes it as “the network of people whose cooperative activity, organized via their joint knowledge of conventional means of doing things, produce(s) the kind of art works that art world is noted for” (Becker, 1982).

Menimbang pernyataan tersebut, dapat dipahami bahwa berlaku sebuah konvesi dalam laju pergerakan pihak-pihak pembentuk pranata seni rupa, sehingga hierarki para pihak adalah sejajar atau sederajat. Satriana Didiek Isnanta menambahkan bahwa ketika terjadi proses pelebaran wilayah kekuasaan dari salah satu pihak yang membentuk pranata seni, akan menyebabkan distorsi dalam medan seni rupa (tinjau Jurnal Seni Rupa ISI Volume 6 tahun 2010). Hal ini pernah terjadi dalam fenomena boom seni lukis di Indonesia yang baru saja berakhir pada tahu 2008.

Boom Seni Lukis Indonesia, perubahan wajah medan seni rupa

Lebih jauh lagi Didiek mengungkapkan bahwa pada fenomena boom seni lukis, Terdapat pelebaran kekuasaan pada galeris dan kurator. Galeri dan kurator menjelma menjadi agen kebenaran (Walker, Sarah Chaplin, 1997). Bahkan proses inisiasi seniman ke dalam medan seni rupa juga melalui pihak galeri dan kurator (Zolberg, 1990). Didiek menduga bahwa latar belakang ketimpangan tersebut adalah dari aspek manajemen setap galeri. Manajemen, secara umum dipahami sebagai: Hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan sumber daya secara efektif (baik manusia, alam, maupun uang), atau, Sekelompok orang / pihak yang bertanggung jawab dalam manajemen sebuah organisasi, perencanaan serta realisasi gerakan-gerakannya. (David A. Statt, 1991). Maka dari itu, manajemen seni atau galeri adalah proses manajemen yang dlakukan untuk membantu penggagas (pengelola) untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien, dalam kasus ini pameran seni rupa (Sanento, 2004). Efektif dalam pengertian bahwa karya-karya yang dipamerkan memenuhi kebutuhan seniman maupun pasar yang mengikutinya. Sedangkan efisien, berujung pada penggunaan sumber daya seara rasional, hemat, dan tepat sasaran. Beliau pun menyatakan bahwa motif pengadaan pameran pada era boom seni lukis yang juga menjadi tujuan dibuatnya pameran adalah komersialisasi karya seni.

Kurator, dalam periode ini berkembang menjadi agen aktif pameran seni, berjalan parallel dengan fenomana kekuratoran global, yakni munculnya kurator-kurator independen yang bertugas menjadi kurator pameran, tidak bekerja di bawah institusi sebuah museum. Perwacanaan pameran pun lebih berada di tangan kurator. Konsep karya seniman kemudian bersinggungan dengan wacana pameran secara kontekstual. Kekuratoran pun pun kemudian mensubordinasi keberadaan kritik yang dalam medan seni rupa bertugas sebagai pihak yang memberikan koreksi. Didiek menambahkan pula bahwa dominasi kurator tidak lepas dari aliansinya dengan kolektor-kolektor seni.

Boom seni lukis yang melibatkan rotasi uang yang cukup besar di dalamnya melahirkan fenomena ‘menggoreng lukisan’, yakni upaya melambungkan harga karya seni. Kolektor yang mengkhususkan pada perlakuan karya seni sebagai investasi, dengan bantuan kurator, berupaya untuk membuat trend-trend baru (dengan media perwacanaan pameran) di dalam pasar, dengan memunculkan karya-karya seniman muda dan kemudian membelinya di pasar primer (galeri, atau art dealer)dan kemudian menjualnya di balai lelang dengan harga yang lebih tinggi. Didiek menyimpulkan bahwa pihak yang paling diuntungkan oleh Boom Seni Lukis adalah kolektor, kurator, art dealer, dan galeri. Sedangkan seniman berada di bawah naungan kurator dan kolektor baik secara politis maupun ekonomi. Seniman muda kemudian dijadikan sebagai objek eksploitasi (Didiek, 2010)

Pada pasaran sekunder, di Indonesia, seniman hanya berhak gigit jari atas melambungnya harga karya yang seyogyanya diproduksi oleh beliau. Keuntungan dalam kasus ini berada pada pihak penggerak pasar diluar seniman. Semenjak seniman dijadikan objek eksploitasi, kerugian baik secara mental maupun finansian pun melanda para pekerja seni ini. Seyogyanya terdapat sebuah regulasi yang dianggap tidak tetlalu merugikan seniman dalam proses pergerakan balai lelang, Dirk Boll menyatakan bahwa terdapat sebuah kebijakan droit de suite dalam proses pelelangan karya seni di beberapa negara Eropa, yakni kebijakan bahwa seniman berhak mengambil sekian persen (tergantung kebijakan pemerintah) dari selisih kenaikan harga di balai lelang, namun sayang, kebijakan ini tidak berlaku di Indonesia. Fenomena menarik terjadi di Yogyakarta ketika beberapa seniman yang menjadi korban’penggorengan’ karya seni kemudian mendapat beban mental yang amat luar biasa karena terikat kontrak dengan beberapa kolektor yang tidak mengizinkan mereka untuk berkarya seni selama beberapa periode, bahkan beberapa diantaranya (maaf) menderita regresi mental.

Sebelumnya telah diterangkan bahwa terdapat anomaly dalam medan seni rupa kontemporer Indonesia yang sangat disayangkan merugikan beberapa pihak, dengan tidak memihak siapapun, seyogyanmya perlu diadakna sebuah perenungan untuk merevisi ketimpangan-ketimpangan yang terjadi. Seni rupa kontemporer yang amat cair dan bebas memang hampir menghalakan segala cara baik dalam proses kreatif seniman mapun dalam proses perwacanaan seni ke depannya, atau di wilayah yang lebih praktis sampai kepada proses distribusi, dan preservasi karya. Namun, alangkah baiknya ketika setiap pelaku medan seni rupa mulai mempercayai bahwa seni masih memiliki itikad baik sebagai representasi peradaban, dan juga alat pencari kebenaran, yang agak bersebrangan dengan motif-motif berkonotasi negatif tertentu.