Kritisi Politis seorang Maestro

by gumilarganjar

Image

 

 

MY LOYALTY TO MY COUNTRY ENDS WHERE MY LOYALTY TO MY PARTY BEGINS, DEMOCRACY, tertulis jelas dalam sebuah lukisan karya A. D. Pirous. Tulisan tersebut dibalur dengan warna merah dan biru tua (deep hue blue), dengan batas sebagai berikut: frasa MY LOYALTY TO MY COUNTRY ENDS berwarna merah, dan WHERE MY LOYALTY TO MY PARTY BEGINS berwarna biru tua, sedangkan tulisan DEMOCRACY dibirakan berwarna asli kanvas namun tersapu dengan warna background. Latar belakang karya berwarna gelap agak kehitaman yang dibalurkan ke atas lapisan cat merah dan biru tersebut. Kalimat tersebut berada di kiri sebelah kiri kanvas, dengan layout tulisan yang lumrah dikenal align text left, kata per kata disusun secara vertikal ke bawah. Pada area kalimat tersebut dibiarkan tidak tersapu cat, menonjolkan warna putih dari proses sebelumnya, namun garis-garis huruf terlihat sedikit tersapu kuas dengan warna sesuai dengan komposisi sebelumnya. Kalimat tidak menggunakan typeface khusus, namun terlihat konsistensi bentuk huruf yang cenderung kapital dengan ukuran yang konsisten pula. Bidang kanvas seolah terbagi menadi dua bagian besar yang dipisahkan dari warna, merah dan biru namun hanya sebesar 1/8 bidang kanvas, dipisahkan melalui sebuah garis horizontal yang tidak persis berada di tengah bidang kanvas secara keselruhan, perbandingan luas bidang warna merah dan biru berkisar di rasio 2:3, garis memisahkan kata ENDS dan WHERE. Garis batas ditegaskan dari warna putih pada bagian karya yang berwana gelap. Karya ini berjudul ‘Senjakala Demokrasi Indonesia;. berukuran 108 x 100.5 cm, dibuat pada tahun 2011.

Pada kalimat yang menjadi fokus dari karya,  terlihat sebuah relief timbul yang terbentuk dari pasta pualam (marble paste), namun pada kata DEMOCRARY, tulisan terbentuk dari torehan sehingga menghasilkan ilusi kedalaman yang memebentuk kata tersebut, dikerjakan sewaktu pasta pualam masih basah. Tekstur kasar pasta pualam pada bagian-bagian tertentu pun nampak di sekitar kalimat, Karya secara keseluruhan berwarna gelap, namun tidak terkesan kusam. Warna-warna yang ditampilkan tampak cemerlang dengan kontras yang cukup.

Kesan peratama yang muncul ketika menghadapi lukisan ini adalah sebuah renungan politis, mempertayakan kepada para apresiatornya untuk mempertanyakan loyalitas mereka kepada negri ini, karena sudah menjadi lumrah bahwa politikus-politikus mulai disibukkan dan dibebai dengan kepentingan-kepentingan partai mereka, bukan memperjuangkan keberlangsungan kehidupan masyarakat. Menarik bahwa Pirous mulai tergerak hatinya untuk mengangkat krisis politik yang terjadi di bangsa ini, karena sebelunya beliau selalu berkutat di lingkup spiritual. Meskipun memiliki nilai politis yang tinggi, karya tetap bisa dinikamati secara bentuk. Warna-warna gelap tidak selamanya terasa membosankan, namun tetap cemerlang  karena perpaduannya dengan warna merah dan biru di sebagian kecil karya yang terlihat rapuh dan ringkih menghasilkan kontras yang amat kentara. Didukung dengan keterampilan Pirous dalam membentuk huruf, kesan humanis namun ritmis tampak kuat pada kalimat yang beliau sampaikan. Kalimat yang timbul dengan tekstur yang terbentuk dari pasta pualam pun memberikan sebuah sensasi visual yang baru dan unik, kanvas masih berwarna putih, namun dengan hadirnya tekstur dan huruf yang timbul, terasa sebuah pengalaman estetis yang berbeda dari melihat sebuah kanvas putih yang flat. Sebuah kontroversi pun hadir dalam karya ini, karya seolah inigin memaparkan deskripsi sosial (politis) kepada apresiator, namun ditampikan dalam kaidah-kaidah estetika modern yang kuat, cenderung abstrak, dan memntingkan bentuk, tidak mengindahkan narasi narasi apapun hadir dalam karya.

Sebuah paradoks mungkin bisa hadir dalam karya ini, karya yang amat naratif namun menggunakan kaidah estetika modern yang abstrak. Seyogyanya, seni rupa kontemporer tidak mempermasalhkan ‘permainan tanda’ seperti ini. Kecenderungan karya abstrak yang mulai menampikan narasi-narasi tertentu pun pernah terjadi pada saat modernism masih berjaya (berujung menjadi kontroversi), sebut saja nilai-nilai spiritual, okultisme, mistitisme yang terlihat pada banyak karya Kandinsky, Kupka, Mondrian (beberapa karyanya), dan Malevich. Selain itu, penggunaan huruf yang untuk menghantarkan ide seniman kepada apresiator pun menjadi amat dominan pada karya ini, bahkan cenderung menjadi fokus utama dalam karya, memang, kepiawaian Pirous dalam mengolah huruf dan ketertarikannya dalam kaligrafi Islam yang berangkat dair huruf Arab bisa jadi menjadi latar belakang hadirnya kalimat tersebut yang meski secara estetis itu cukup baik, tetap saja menjadi terlalu mudah dan tidak menantang bagi apresiator. atau boleh jadi Pirous enggan bertele-tele untuk menyuarakan lunturnya loyalitas para politikus  negri ini. MInimnya tantangan pada karya ini pun seolah-olah selaras dengan kecenderungan seni-seni Marxist yang kerapkali digunakan untuk media penyadaran bagi masyarakat, mencoba untuk memperbaiki moralitas bangsa.

Secara umum, karya ini berhasil menghasilkan pengalaman estetis yang cukup baik dan sepadan baik secara formal maupun dalam konteks sosial politk. Mengindahkan kaidah-kaidah formalism namun tetap berusaha menyuarakan kegelisahan Pirous dalam mengamati perjalanan pemerintahan negri ini, terutama degradasi loyalitas eksekutif yang lebih memprioritaskan kepentingkan partainya, bukan negrinya.