Mengenai Conceptual Art dan Laju Progresinya

by gumilarganjar

Conceptual Art adalah sebuah gerakan seni yang mulai berkembang  sekitar tahun 1960-an dan merupakan gerbang menuju perbabakan dunia (dan juga seni) yang baru, yakni post-modernisme. Conceptual art merupakan salah satu bagian dari late-modernisme, yakni fase ketika paham modernism yang menganut dan mengacu pada pemikiran filsuf Clement Greenberg mulai diserang oleh gerakan-gerakan pemikiran baru yang anarkis dan meruntuhkan teori-teori modernis yang mengacu pada tiga nilai utama, yakni ilmu pengetahuan yang rasional, moralitas universal, dan seni yang otonom. Gerakan pemikiran ini menamakan dirinya post-strukturalisme, yakni teori yang mendekonstruksi semiotika strukturalis Ferdinand de Saussure, dengan menggunakan semiotika sebagai senjata utamanya. Melalui ilmu pertandaan, kaum post-strukturalis Prancis menentang teori modernisme secara keseluruhan.

Pada masa tersebut, kaidah-kaidah seni modernism yang otonom, mulai diragukan oleh publik. Kaidah-kaidah kaku modernism yang mengacu pada progresivitas dan kebaruan mulai dilampaui oleh sepak terjang seniman. Puncak modernism yang seringkali bertumpu pada abstract-ekspresionis dan abstrak geometris dengan berpacu pada estetika bidang kanvas yang flat dan estetika yang hanya berkutat pada elemen rupa sebuah karya, yakni garis, bidang, warna, dan tekstur, juga mengunggulkan sifat datar dari sebuah kanvas pada lukisan atau keunggulan formal kayu, batu, atau logam pada patung. Dapat disimpulkan bahwa pada decade 60-an seniman-seniman barat tidak puas dengan nilai-nilai yang tertuang pada estetika modern dan mencoba keluar dari paham tersebut. terjadi sebuah paradoks unik dalam memaknai fenomena ini, yakni seni rupa modern yang selau berpijak pada kebaruan mendatangkan pertentangan substansial yang vital sebagai tawaran ‘kebaruan’ yang paling baru, dan disinilah modernisme berakhir.

Tercatat bahwa pada masa tersebut dunia menghadapi wajah baru yang serba kritis dan serba intelek. Namun sering kali cenderung fatalis dan anarkis, terdapat kecenderungan lahirnya pemikiran yang asal bukan modern, yang dalam substansinya terdapat iklim kritis dan sarat dengan intelektualitas. Pernyataan demi pernyataan ditujukan untuk merespon pemikiran modernisme, kadangkali dengan meminjam pemikiran-pemikiran sebelumnya. Kondisi ini kemudian mengantarkan publik untuk mengkritisi satu sama lain di berbagai bidang, termasuk seni. salah satu gejala yang menandakannya adalah tercetusnya seni konsep/conceprual art. Sebagai jenis seni yang lebih mementingkan konsep dari sebuah karya seni, bukan semata visual, karena konsep berkaitan dengan ide, ide berkaitan dengan pikiran, dan pikiran manuisa adalah sebuah substansi yang bisa berkembang amat radikal, pun seni konsep, merambah bidang-bidang lain yang sebelumnya dianggap rancu untuk dijamahi seni.

Conceptual art / seni konsep bersinonim dengan seni ide, seni yang menempatkan ide diatas segalanya. Seni konsep tercetus pada dekde 1960-an, sebgai sebuah seni yang mulai mempertanyakan eksistensi dirinya atas medan sosial seni, yang sebelumnya otonom, terlepas dari masyarakat. seni yang lekat akan kesdaran diri, menyadari berbagai hal yang tercakup di dalamnya, jauh dari kesan intuitif, seni lebih mengarah menjadi sebuah intellectual statemen atu tindakan kritis, yang dalam proses ontologisnya melalui sebuah proses pengeraman ide yang benar-benar sadar. Seni yang lekat dengan kesdaran konteks seninya. Pada proses berjalannya, seni konsep seringkali melampaui ekspektasi audiens, bahkan tidak jarang sampai pada label ekstrim. Menariknya, untuk menikmati sebuah karya conceptual art, diperlukan sebuah sikap mental dan atensi yang cukup tinggi dari audiensnya, audiens harus mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi sebuah karya snei yang benar-benar jauh dari kaidah konvensional yang mungkin tertanam dalam benak mereka atas doktrinasi estetika modern yang telah diulas diatas. Tak jarang timbul konflik di benak audiens ketika memahami sebuah karya conceptual art. Seni konsep benar-benar ‘menyerang’ pikiran dari seorang audiens, tidka seperti Earhworks dan Process Art yang hanya mengusik sebagiaan besar pemikiran audiens.

Seni konsep adalah seni yang luwes dan radikal, dan integral. Seni ini pada pekembangannya berintegrasi dengan berabagi disiplin yang jauh dari seni rupa, atau sekarang terkesan dekat karena integrasinya dimulai dari seni konsep. Seni yang dahulu hanya berkutat dengan dirinya sendiri telah ditinggalkan, seni komsep seringkali berkolaborasi dengan disipli ilmu lainnya, seprti semiotika, linguistic/bahasa, psikologi (salah satunya psiko-analisis), teatrikal, filosofi, ekologi (lingkungan), politik, sosial kemasyarakatan, jurnalistik, dll. Keberkaitan seni dengan berbagai aspek hidup dan displin kelimuan lainnya boleh jadi dianggap sebagai sebuah indikasi lahirnya seni post-modern yang dikembalikan lagi kepada masyarakatnya, seni yang jauh lebih bebas dan plural, yang lebih akrab di telinga manusia kontemporer. Seni konsep membebaskan seni untuk melanglangbuana dan berinterkasi dengan berbagai macam aspek, bahkan cenderung ekstrim, tidak berbatas, radikal, dan brakhir pada sebuah kondisi yang membingungkan.

Karena visual buknalah hal yang dipentingkan dalam conceptual art, maka untuk pertama kalinya, seni yang mementingkan rupa tidak bercirikan atas rupanya itu sendiri. tinjauan historis mengemukakan bahwa keragaman penggunaan media dalam seni konsep-lah yang menyebabkan hal tersebut. bagaimana mungkin sebuah seni yang menggunakan media yang bergitu beragam dapat memiliki ciri visual yang kaku. Jauh dai sejarah seni sebelumnya terutama seni lukis yang jelas pembabakannya, yang menjadikan ciri visual sebagai acuan dan penanda dalam garis waktu sejarahnya..

Beragam media yang pernah digunakan para seniman seni konsep menjadikan luasnya cakupan seni konsep, yang dapat dikelompokkan menjadi: Information Art, Performance Art, Narrative Art, Body Art, Readymades, Founding Objects, Sound Art, Video Art, dll.

 

Progresi Conceptual Art

Seyogyanya praktik conceptual art pernah dilakukan oleh seorang seniman yang menjadi ikon dari Dadaisme, yakni Marcehel Duchamp dengan karanya yang fenomenal dan kontradiktif, yakni Fountain pada tahun 1917. Duchamp meletakkan sebuah urinoar yang terbuat dari porcelain di dalam museum dan ditandangani R. Mutt, pemknaan atas karyanya ini adalah menurutnya, galeri seni dan museum memberikan sebuah jarak antara karya seni dengan publik, dan dengan ide menampikan barang readymades yang akrab dipakai publik dalam keseharian yang ditabrakkann dengan eksklusifitas benda seni yang didisiplay seniman di dalam rumah seni tersebut. menurutnya, seniman memiliki aura untuk menimbang sesuatu menjadi benda seni, apapun itu. Tindakan Duchamp tersebut disinyalir bahwa menurutnya visual bukanalah hal yang paling penting, namun aura yang dimiliki seniman menjembatani mereka untuk mengemukakan idenya, bahkan dengan pengejawantahan yang begitu cair dan luwes.

Aksi Marchel Duchamp yang cukup kontradiktif tersebut memicu para seniman untuk semakin menggali ide dan kian kritis dalam memahami seni, setelah Dadaisme mulai menginisiasi readymades sebagai opsi media benda seni, maka lahirlah genre-genre seni lainnya yang cenderung tidak konvensional dan sejalan dengan estetika modern, seperti Process Art, seni instalasi, Eartworks, Minimal Art, Fluxus, dan genre lainya.

Process art, adalah seni yang mencoba untuk menampikan proses terjadinya sesuatu, dan proses kemenjadian sebuah karya seni seperti, jatuhnya batu, hancurnya sesuatu, dll, Process Art lebih mementingkan proses ontologis/terjadinya sebuah karya seni ketimbang hasil final sebuah karya seni .Sebuah gerakan Anti-Form, anti-bentuk, yang substansinya ditampilkan dengan penggunaan media yang ephemeral, amat sementara. Seperti latex, salju, cornflakes, sampah pertukangan, dll. Hal menarik yang bisad ditandai dari keberlangsungan seni proses adalah penggunkan bahan ephemeral yang sementara, dan pda konteks saat ini karya seni seolah berkesan abadi dan lekang. Kesementaraan adalah sebuah prioritas substansial dalam process art.

Genre lain yang memicu lahirnya seni konsep adalah Earthwork dan instalasi, instalasi lahir lebih dulu dari earthwork, sebagai sebuah gerakan yang mencoba melawan komodifikasi seni, dan melawan kegiatan ‘merumahkan’ seni ke dalam museum, dan menjadikan galeri sebagai tempat yang formal dalam menyajikan sebuah karya, tentunya dalam sebuah pameran. Seni instalasi pada awalnya adalah sebuah seni yang site-specific, dengan penekanan pada terminology install / pasang, seni isntalsi adalah seni ‘masang-memasang’ berbagai media yang saling dipadukan satu sama lain dengan implementasi estetika, pada awalnya merespom ruang, tidak lagi berkutat pada ruangnya sendiri, namun merespon lingkungan sekitar. Karenanya, sebuah karya instalasi tidaklah dapat dibeli dan dijadikan komoditi, karena tidak bisa diboyong dan dikoleksi di dalam rumah atau bahkan dijadikan sebuah benda sebgai media investasi. Namun seiring berjalannya waktu, karya instalasi pada akhirnya lebih memntingkan pada teminologi installnya itu senidiri, bukan pada respon akan ruang, dan akhirnya diklahkan oleh formalitas  (bukan formalisme) seni, seni instalasi bisa mulai masuk museum dan dapat diperjualbelikan. Diferesiansi dari seni instalasi yang mementingkan respon akan ruang adalah lahirnya earthwork, sebagai sebuah karya seni yang merespon lingkungan, biasanya alam sekitar, ‘media’ yang sering dipakai oleh earthwork adalah landscape, seascape, pegunungan, pantai, laut, dll. Seperti salah satu contohnya adalah karya Spiral Jetty, yakni pantai kecil yang berbentuk spiral yang terdapat di sebuah pantai lepas di daerah Eropa.

Genre seni lain yang mulai menunjukan tendensi dipentingkannya ide atau konsep dalam sebuah akrya adalah minimal art. Minimal Art adalah sebuah gerakan seni yang mereduksi semua elemen yang menurutnya tidak diperlukan dalam penyajian sebuah karya seni. karya minimal cenderung berkesan dingin dan minim ekspresi senimannya. Menurut para seniman minimal art, efisiensi penyajiaan ide dalam sebuah karya seni amatlah dipentingkan, hal ini dilatarbelakangi oleh pencegahan akan tercemarnya nilai ide seniman ketika bertubrukan dengan ekspresi emosi. Maka ekspresi dari seniman tersebut justru dihilnagkan, dan penyajian ide dilakuakn sesingkar dan seefisien mungkin.